Sabtu, 19 Oktober 2013

MATA... MATA... MATA...

Ketika kubuka kelopak mataku kala rinai hujan menyapa.
Kilauan cahaya berkilatan.
Banyak bibir meluncurkan pepatah bahwa mata adalah jendela hati.

Ya.
Mataku berkaca-kaca... sayu malah.
Aku tak tahu mataku ingin berbicara apa.
Hati ini memaksa mataku untuk mengatakan jeritannya.

Dari semalam ia menjerit.
Jeritan yang ada dari dalam hati.

Melihat bola matamu,
aku benar-benar merindumu.

Matamu yang memancarkan sesuatu ketika aku melihatnya.
Sipit.
Tetapi terkesan menarik.

Ah,
jangan tertawa.

Aku serius.

Dan jangan salahkan aku jika aku mencarimu...
Sekarang!

Selasa, 08 Oktober 2013

BERBAGI

Kelas Interpersoal Speaking, Selasa, 8 Oktober 2013

Aku masih bisa melangkah.
Tetapi…
Kaki ini masih bisa tegak berdiri.
Namun ia tak bisa tegak. Gontai. Gentar.
Kaki ini ingin berkata, “Mengapa kau berjalan sendiri?”

Aku masih bisa mendudukkan ragaku di kursi.
Tetapi…
Raga ini dapat diletakkan di kursi.
Namun jiwa ini tak menyeruakkan kenyamanan.
Jiwa ini berkata, “Mengapa kau duduk sendiri?”

Aku masih bisa tertawa.
Tetapi…
Hati dan perasaan ini begitu cerah.
Hingga membuatku ingin tersenyum malah.
Namun rasanya senyum ini mengatakan, “Mengapa kau tertawa sendiri?”

Ah.
Aku benar-benar tak pernah berpikir
Dan tak pernah habis pikir.
Entah mengapa begitu beraninya aku meluangkan semua waktuku
Sendiri.
Tanpa tahu ada kau yang bisa kuajak berbagi.

Salatiga, 081013

Jumat, 04 Oktober 2013

BERDARAH

Kau yang kubidik.
Kau yang kujadikan sasaran.
Ya, sasaran atas perasaan ini.

Perasaan yang sejak dahulu tak tertahankan.
Perasaan yang sejak dahulu selalu kusimpan.
Perasaan yang sejak dahulu menjalar tak tentu arah.
Perasaan yang sejak dahulu takkan kubiarkan begitu saja.

Namun, sayang.
Aku takut berdarah.

Ya,
aku takut sekali jika aku benar-benar berdarah.

Aku belum siap!

Ya.
Aku benar-benar belum siap berdarah.

dari seseorang yang tak siap membidik pelurunya.