Cappucino itu disesapnya. Hangat dan manis. Ia kembali memandangi
rintik-rintik hujan yang turun di sekitar kos-kosannya. Lama-kelamaan hujan itu
turun semakin deras. Ia masih sibuk berkutat dengan laptop-nya dan
tugas-tugas tak pernah berhenti datang. Ia sedang mengetik laporan kuliah umum
yang diselenggarakan oleh universitas beberapa hari yang lalu. Ia diminta untuk
merangkum segala pembicaraan yang ada. Ia kembali menyesap kopinya.
“Win…
aku lapar, nih! Mau nemenin gue nyari makan, nggak?” tanya Roro, tetangga
kos-kosannya sebelah kiri sambil menyisiri rambutnya yang basah. Ia sudah siap
dengan baju putih bertuliskan Save My Story dan celana panjang merah
muda. Winda yang masih tampak sibuk dengan tugasnya itu tidak menghiraukan apa
kata Roro. Tak heran jika Roro mengulang permintaannya.
Winda
berhenti sejenak, melenturkan urat-uratnya yang sedari tadi tegang. Ia melihat
jam yang tertera di desktop-nya. Pukul dua puluh. Ia ingat bahwa satu
setengah jam lagi kos-kosannya akan dikunci. Untung Winda memilih kos-kosan
yang menerapkan jam malam, sebab jika tidak… tahu sendiri akibatnya. Walau kota
tempatnya ia menuntut ilmu saat ini, Salatiga, adalah sebuah kota kecil, ia
tetap harus menjaga harga diri dan “mahkota”-nya.
“Satu
setengah jam lagi mau tutup, lho, Ro! Lo mau entar kita kemalaman di jalan?” tanya
Winda kemalaman. Sebenarnya, pertanyaan itu hanya untuk menyembunyikan
keadaannya sekarang. Malas untuk bergerak.
“Gue
kan mau makan nasi bandeng. Nggak jauh-jauh amat, kok, dari sini!” katanya.
Ia
ingat tempat makan yang menjual nasi bandeng itu. Ia suka memesan nasi putih
dengan lauk kucingan yang disediakan tempat makan itu. Ada ayam rica
rica, bihun goreng, dan bandeng. Jika ia tidak ingin makan ketiga lauk kucingan
itu, ia tinggal memesan sepiring nasi putih dan semangkuk mi rebus dengan telur
dan sayuran di atasnya. Benar, tak jauh dari kos-kosannya.
“Hujan,
Ro. Tapi gue masih punya banyak nasi di rice cooker sama mi ayam bawang.
Mau?”
“Umm…
boleh, tuh! Nanti gue ganti, ya.”
“Nggak
usah, Ro! Buat lo aja,” kata Winda sambil tersenyum.
“Lo
nggak lapar, Win?” kini Roro balik bertanya. Hawa dingin mulai menyapa kamar
Winda yang tampak bersih itu. Sprei Marie – tokoh kucing dalam kartun
karya Disney, Aristocats – tertata rapi dengan bantal dan selimut. Kamarnya tampak begitu bersih. Bersih sekali.
Tidak ada satu debu pun yang menempel.
“Nanti
aja. Gue bisa masak nasi dan mi-nya sendiri, kok,” Winda tersenyum dan menatap
Roro hangat. Sebenarnya, mendengar hujan turun dengan derasnya kala itu, Winda
benar-benar merasakan hal yang aneh dalam dirinya. Hatinya begitu dingin,
sedingin hawa yang menyapa kamarnya kala itu. Hujan itu mulai mengguratkan hawa
yang begitu membuat hatinya semakin hari… semakin dingin. Ia benci terlalu lama
menyendiri. Ia ingin ada seseorang yang mau memeluknya dengan begitu hangat. Lamunannya
buyar kala Roro mengetuk pintunya.
“Win,
gue numpang makan di sini, ya,” kata Roro ceria, seperti biasanya. Ia memegang
semangkuk mi ayam bawang yang ditaruh di atas sebuah piring kaca berwarna
kuning. Winda menjawab dengan gumaman, tanda membolehkan. Roro langsung saja
duduk di atas kasurnya.
“Ro,
gue curhat boleh?” Winda langsung membuka pembicaraan.
“Kenapa
nggak? Tapi kalau aku dengerin sambil makan boleh?” tanya Roro meminta izin.
Winda
menegur sahabatnya itu. “Begini aja. Biar efektif, mending lo habisin dulu
mangkok mi-nya. Nah, kalau udah kenyang baru, deh, dengerin gue. Dari dulu, gue
selalu diomongin biar nggak jadi anak yang multitasking. Ngerti, kan,
maksud gue?”
“Sementang
anak FEB,
lo jadi menganut prinsip manajemen, dong… kerjakan satu-satu agar hasilnya
efektif.”
“Manajemen
bukan soal ekonomi aja, kali, Ro. Manajemen itu dekat dengan kehidupan kita
sehari-hari,” kata Winda. Lama-kelamaan, juga karena udara semakin dingin,
perutnya sudah mulai koor minta diisi. Ia lalu mengambil bungkusan yang ada
dalam plastik hitam. Nasi putih, paha ayam, dan oseng buncis-wortel-telur
puyuh. Ia hanya tinggal perlu menghangatkan nasi putihnya saja. Ia tidak suka
makan makanan yang dingin. Hangat lebih mantap. “Gue makan juga, deh, kalau
begitu.”
“Tuh…
ketularan laparnya juga, kan,” kata Roro sambil tertawa. Untung telah ia telan
semua makanan yang ada dalam mulutnya.
“Ro…
jadi jomblo kelamaan tuh… nyiksa, ya.” Winda memulai pembicaraannya dengan
sangat to the point. Tak tahan sendiri terus-menerus. Mahasiswi semester
satu berumur delapan belas tahun yang saat masa SMA-nya selalu jadi rebutan
cowok, ternyata punya masa kuliah yang begitu “jungkir balik”. Tak mudah
memperdaya seorang cowok.
“Nggak
selamanya, kali. Gue aja yang setahun lebih tua daripada lo aja ngerasa kalau
jomblo itu indah. Selain karena pikiran gue bakalan terbagi dua, keluarga gue,
mulai dari Eyang Kakung-Eyang Putri sampai Pakde-Bude pun nggak ngebolehin gue
pacaran. Gue takut jadi penyebab kegagalan studi seorang cowok. Jadi…
pacarannya nunggu sukses aja, deh!” curhat Roro.
“Buset!
Lo kayak didoktrin aja.”
“Emang.
Keluarga gue benar-benar keluarga yang kaku. Gue berasa kayak hidup dalam
sangkar emas. Kebanyakan formalitas yang mengganggu langkah gue. Gue
bener-bener nggak ngerasa bebas di keluarga gue sendiri. Mulai dari baju sampai
hal-hal kecil aja diperhatiin mulu!”
Mendengar
hal itu, Winda menarik napas. Ia menengok masa lalunya. Ayah-ibunya cerai
karena hadirnya orang ketiga. Bukan perselingkuhan, lebih tepatnya ayahnya
merasa kasihan karena melihat perempuan miskin yatim-piatu. Winda benar-benar
tidak menyukai keputusan ayahnya yang hendak menikahi perempuan itu. Lebih baik
dijadikan pembantu. Ia menutup matanya sejenak, lalu membukanya lagi. Tandanya,
masih ada yang menyayangi Roro.
“Tapi,
by the way, jomblo atau nggak, sih, tergantung lo-nya, Win. Lo mau fokus
atau lo bisa jadiin cowok lo semangat atau nggak, kendali di lo.”
Hujan
turun semakin deras. Tapi, anehnya, petir tak menyambar. Namun, hawa dingin
masih menyelimuti kamar dua insan yang begitu dekat itu.
“Tumben
lo kepikiran soal jodoh.”
“Banyak
yang ngomong kalau lo susah dapet jodoh pas masa-masa sekolah kayak begini,
nanti jadi perawan tua. Ya kalau badan gue masih ramping. Kalau melar sana-sini?
Makanya, Ro… setiap gue ngelihat hujan, entah kenapa hawa dingin yang datang
selalu ngomong, ‘Kapan kamu punya seseorang yang siap nemenin lo di kala
kedinginan dan memeluk lo dengan begitu hangatnya?’ Gue benci hujan. Karena
hujan nggak pernah ngasih gue waktu buat mencarinya.” Winda langsung duduk di
samping Roro setelah ia menandaskan makanannya. Ia tidur di atas paha
sahabatnya itu. Roro membelainya lembut. Entah siapa yang akan membelai
rambutnya di kala ia kedinginan seperti ini. Hari-hari ini, ia merasa begitu
kosong. Tak seorang pun menemani.
“Tenang
aja, Win. Bakal ada seorang cowok yang mau nemenin lo sampai rambut lo putih. Gue
jamin itu. Bawa harapan lo dalam doa. Tapi… sambil lo nyari juga, ya.”
Dalam
bayangannya, terpatri sosok Kevin tiba-tiba. Ah, mengapa kau datang begitu
cepat saat kau butuh, meski aku tak bisa merengkuhmu? batinnya. Setiap ia
menjemput Roro di Gedung F, di mana mahasiswa FBS
berkuliah untuk makan di Kafe Rindang, ia selalu melihat orang yang ingin ia
sentuh. Walau sekali saja. Tubuh tinggi menjulang dengan badan yang lumayan berisi.
Kulit cokelatnya. Matanya. Tulang hidung yang tinggi. Senyum dengan geligi yang
selalu ditampilkannya. Apalagi ketika ia memakai baju rajut lengan panjang
dengan jins belel. Sepatu kets yang
menutup kakinya dan memanggul tas kecil yang hampir mirip seperti pouch
berwarna abu-abu.
Dua
kali kata ‘ah’ mampir di benak Winda.
“Jangan
pernah menyalahkan hal apapun, Win. Don’t blame yourself. Biarkan
semuanya berjalan apa-adanya. Jika suatu saat lo jadian sama Kak Kevin, kan, lo
sendiri yang seneng. Biar Tuhan yang mengatur semuanya. Ada kalanya lo mikir
hal tersebut, tapi… jangan terlalu serius. Setelah selesai memikirkannya,
endapkan, biarkan ia pergi. Hujan dan hawa dingin hanya benda yang Tuhan
ciptakan. Jadi, ketika lo membenci yang namanya hujan, sama aja lo benci dengan
Yang Menciptakan. Ngerti, kan, maksud gue? Biar Tuhan berkarya dalam setiap
langkah lo.”
Winda
hanya bisa tersenyum hangat. Tiba-tiba, Samsung Galaxy S4-nya berbunyi. Satu
SMS masuk. Ia terkejut. Kevin!
Hey,
I wanna ask you something, Girl. Wanna be my princess?
Winda
hanya tersenyum. Ia mengetikkan tiga kata untuk membalas SMS-nya. Yes.
Ketika Roro melihatnya tersenyum-senyum sendiri, ia mengerti apa sebabnya. Berpikir
positiflah, Win. Tuhan menciptakan kita berpasang-pasangan. Mungkin, dalam hati
lo udah minta maaf sama Tuhan dan nggak mau lagi mikir aneh-aneh. Dan… see!
He gives him, right? Roro yang tidak pernah memberi tahu bahwa Kevin
sebenarnya menyukai Winda sejak awal pun merasa lega akan sahabatnya ini. Roro
yang terlalu didoktrin tetapi masih bisa berpikir positif. Roro yang selama ini
selalu berusaha mendekatkan Kevin dan Winda ketika bertemu dan berbicara
berdua. Roro yang begitu senang dan selalu menyunggingkan senyum ketika dengan
akrabnya mereka tertawa lepas. Terima kasih Tuhan. Kau telah memakaiku untuk
memberikan senyum bagi sahabatku. Doanya malam itu. Dan… hujan pun
berhenti..