Kamis, 19 Desember 2013

LET IT FLOW

Rabu, 18 Desember 2013

Bermula di suatu pagi pada pukul 09.00, tiba-tiba tidur nyenyakku harus diganggu dengan suara ketukan. Namun, aku tidak jadi ngambek karena orang yang mengetuk pintu kamar kosku adalah seorang yang kukenal dan kuanggap sebagai abang sendiri. Yup, Abang Tian. Aku membuka pintuku dan dia berkata, "Chris, mau ikut pergi ke Jogja, nggak?"

Deg! Jogja! Kota yang selama ini aku impikan untuk mengunjunginya kala akhir pekan. Serius, Salatiga adalah (maaf) sebuah kota mati. Kalau mau malam mingguan, kalau tidak jalan-jalan ke sekitar Selasar Kartini ya... diam duduk manis di kos-kosan dan pacaran dengan laptop. Tapi... aku tiba-tiba ingat akan keberangkatanku menuju Lampung pada 21 Desember nanti. Jemuran belum kering dan rencananya harus kuselesaikan secara jantan. Apalagi kalau bukan menyeterikanya secara paksa?

"Aduh, Bang, maaf, gue nggak bisa pergi ke Jogja, nih. Ada banyak kerjaan. Jemuran belum diangkat. Kamar belum diberesin," jawabku sambil menunjuk-nunjuk semua hal yang kujadikan alasan tersebut.

"Dua puluh satu, kan, masih lama. Ngapain lo buru-buru? Daripada suntuk di kos..."

"Ya sudahlah."

Ya. Kuiyakan saja ajakannya. Aku pun menunggu hingga pukul 12.00. Selama aku menunggu, hanya hujan, Indra, dan Adrian saja yang menjadi temanku. Sambil diiringi lagu-lagu yang kuputar dari laptop: Akan Datang (Amy Mastura) dan Bicara Manis Mengiris Kalbu (Siti Nurhaliza) disusul dengan playlist lagu-lagu Melayu, baik yang dinyanyikan Siti Nurhaliza maupun Noraniza Idris. Selama proses menunggu berlangsung, aku mandi, setelah mandi sebisa mungkin aku membereskan kamarku. Dan... yang ditunggu-tunggu pun datang.

Rupa-rupanya, si Abang pergi dengan gadis yang dulu sempat membuatnya jatuh hati di gereja. Novita. Dari curahan hatinya beberapa hari yang lalu bersama Aris dan Indra (kebetulan teman-teman sefakultas Indra datang dan meramaikan kos-kosan) dia jatuh cinta dengan gadis itu dan... ia bertekad menjaganya. Serasa berlian mahal. Hah, begitulah cowok. Dan... aku tak bisa menyangka!

Selama perjalanan menuju Jogjakarta dan aku diminta Abang untuk duduk di samping sopir (dasar nasib jomblo), aku heran melihat mereka. Kakak-adik bukan... Pacar juga bukan... karena aku tahu si Abang sudah punya pacar nun jauh di Jayapura sana. Mereka begitu mesra. Panggilan sudah Papa-Mama. Awalnya aku bingung apa mereka telah meresmikan hubungannya atau... (lupakan!). Ternyata, kebiasaan Novita yang berasal dari Manado itulah penyebabnya. Kata Novita, di Manado biasa mereka bilang "Mama lagi buat apa, mi?" Nah... kalau 'mi' yang di belakang itu sudah beda cerita. 'Mi' adalah logat Palu.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Museum Dirgantara. Di sana, kami melihat begitu banyak pesawat yang digunakan Indonesia pada saat mempertahankan kemerdekaannya. Lebih mengejutkannya lagi, termasuk rudalnya diabadikan pula di sana! Kami pun berfoto. Ya Abang, ya aku, ya Novita. 

Inilah Permasalahannya!

Ketika berada di Museum Dirgantara, aku diminta untuk berpegangan tangan. Kata Novita, kami bertiga layaknya geng anak-anak SMA yang sehidup-semati, justru... ketika aku berpegangan tangan halusinasiku benar-benar lain! Dalam halusinasiku, tampak aku bersama seseorang yang selama ini aku 'gandrungi' baik secara fisik maupun perilaku (aku malas untuk menyebutkan namanya) sedang berpegangan tangan. Berdua saja. Dan sepanjang jalan dari Museum Dirgantara ke Malioboro... aku merasa seperti seorang wanita!

Oh, Tuhan! Berkali-kali aku mencoba melupakannya tetapi justru tetap dia saja yang muncul. Bagaimana ini? Berusaha bersikap biasa sajakah atau...

Aih!

Justru, di sinilah aku diuji. Terlepas kau mau mengatakan aku tetap tidak bisa melupakannya, aku justru berbicara masalah melupakan. Melupakan adalah proses kehidupan. Ya, aku tahu itu. Entah kita melupakan karena hal buruk yang pernah kita alami, melupakan seseorang yang pernah menyakiti hati, atau sebab lainnya.

Tetap, melupakan adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan. Justru, ketika kau mencoba untuk masuk dalam kesibukan, proses melupakan yang kau lakukan hasilnya hanya bersifat sementara, tidak permanen. Aku justru menyetujui apa yang dikatakan Mishelle padaku. Rahasia melupakan hanya ada pada tiga kata. Let it flow. Biarkan proses melupakan mengalir dengan sendirinya dengan bersikap biasa. Tidak melengos, tidak buang muka. []

Rabu, 04 Desember 2013

DALAM DINGIN ADA KEHANGATAN

Cappucino itu disesapnya. Hangat dan manis. Ia kembali memandangi rintik-rintik hujan yang turun di sekitar kos-kosannya. Lama-kelamaan hujan itu turun semakin deras. Ia masih sibuk berkutat dengan laptop-nya dan tugas-tugas tak pernah berhenti datang. Ia sedang mengetik laporan kuliah umum yang diselenggarakan oleh universitas beberapa hari yang lalu. Ia diminta untuk merangkum segala pembicaraan yang ada. Ia kembali menyesap kopinya.
                “Win… aku lapar, nih! Mau nemenin gue nyari makan, nggak?” tanya Roro, tetangga kos-kosannya sebelah kiri sambil menyisiri rambutnya yang basah. Ia sudah siap dengan baju putih bertuliskan Save My Story dan celana panjang merah muda. Winda yang masih tampak sibuk dengan tugasnya itu tidak menghiraukan apa kata Roro. Tak heran jika Roro mengulang permintaannya.
                Winda berhenti sejenak, melenturkan urat-uratnya yang sedari tadi tegang. Ia melihat jam yang tertera di desktop-nya. Pukul dua puluh. Ia ingat bahwa satu setengah jam lagi kos-kosannya akan dikunci. Untung Winda memilih kos-kosan yang menerapkan jam malam, sebab jika tidak… tahu sendiri akibatnya. Walau kota tempatnya ia menuntut ilmu saat ini, Salatiga, adalah sebuah kota kecil, ia tetap harus menjaga harga diri dan “mahkota”-nya.
                “Satu setengah jam lagi mau tutup, lho, Ro! Lo mau entar kita kemalaman di jalan?” tanya Winda kemalaman. Sebenarnya, pertanyaan itu hanya untuk menyembunyikan keadaannya sekarang. Malas untuk bergerak.
                “Gue kan mau makan nasi bandeng. Nggak jauh-jauh amat, kok, dari sini!” katanya.
                Ia ingat tempat makan yang menjual nasi bandeng itu. Ia suka memesan nasi putih dengan lauk kucingan yang disediakan tempat makan itu. Ada ayam rica rica, bihun goreng, dan bandeng. Jika ia tidak ingin makan ketiga lauk kucingan itu, ia tinggal memesan sepiring nasi putih dan semangkuk mi rebus dengan telur dan sayuran di atasnya. Benar, tak jauh dari kos-kosannya.
                “Hujan, Ro. Tapi gue masih punya banyak nasi di rice cooker sama mi ayam bawang. Mau?”
                “Umm… boleh, tuh! Nanti gue ganti, ya.”
                “Nggak usah, Ro! Buat lo aja,” kata Winda sambil tersenyum.
                “Lo nggak lapar, Win?” kini Roro balik bertanya. Hawa dingin mulai menyapa kamar Winda yang tampak bersih itu. Sprei Marie – tokoh kucing dalam kartun karya Disney, Aristocats – tertata rapi dengan bantal dan selimut.  Kamarnya tampak begitu bersih. Bersih sekali. Tidak ada satu debu pun yang menempel.
                “Nanti aja. Gue bisa masak nasi dan mi-nya sendiri, kok,” Winda tersenyum dan menatap Roro hangat. Sebenarnya, mendengar hujan turun dengan derasnya kala itu, Winda benar-benar merasakan hal yang aneh dalam dirinya. Hatinya begitu dingin, sedingin hawa yang menyapa kamarnya kala itu. Hujan itu mulai mengguratkan hawa yang begitu membuat hatinya semakin hari… semakin dingin. Ia benci terlalu lama menyendiri. Ia ingin ada seseorang yang mau memeluknya dengan begitu hangat. Lamunannya buyar kala Roro mengetuk pintunya.
                “Win, gue numpang makan di sini, ya,” kata Roro ceria, seperti biasanya. Ia memegang semangkuk mi ayam bawang yang ditaruh di atas sebuah piring kaca berwarna kuning. Winda menjawab dengan gumaman, tanda membolehkan. Roro langsung saja duduk di atas kasurnya.
                “Ro, gue curhat boleh?” Winda langsung membuka pembicaraan.
                “Kenapa nggak? Tapi kalau aku dengerin sambil makan boleh?” tanya Roro meminta izin.
                Winda menegur sahabatnya itu. “Begini aja. Biar efektif, mending lo habisin dulu mangkok mi-nya. Nah, kalau udah kenyang baru, deh, dengerin gue. Dari dulu, gue selalu diomongin biar nggak jadi anak yang multitasking. Ngerti, kan, maksud gue?”
                “Sementang anak FEB[1], lo jadi menganut prinsip manajemen, dong… kerjakan satu-satu agar hasilnya efektif.”
                “Manajemen bukan soal ekonomi aja, kali, Ro. Manajemen itu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari,” kata Winda. Lama-kelamaan, juga karena udara semakin dingin, perutnya sudah mulai koor minta diisi. Ia lalu mengambil bungkusan yang ada dalam plastik hitam. Nasi putih, paha ayam, dan oseng buncis-wortel-telur puyuh. Ia hanya tinggal perlu menghangatkan nasi putihnya saja. Ia tidak suka makan makanan yang dingin. Hangat lebih mantap. “Gue makan juga, deh, kalau begitu.”
                “Tuh… ketularan laparnya juga, kan,” kata Roro sambil tertawa. Untung telah ia telan semua makanan yang ada dalam mulutnya.
                “Ro… jadi jomblo kelamaan tuh… nyiksa, ya.” Winda memulai pembicaraannya dengan sangat to the point. Tak tahan sendiri terus-menerus. Mahasiswi semester satu berumur delapan belas tahun yang saat masa SMA-nya selalu jadi rebutan cowok, ternyata punya masa kuliah yang begitu “jungkir balik”. Tak mudah memperdaya seorang cowok.
                “Nggak selamanya, kali. Gue aja yang setahun lebih tua daripada lo aja ngerasa kalau jomblo itu indah. Selain karena pikiran gue bakalan terbagi dua, keluarga gue, mulai dari Eyang Kakung-Eyang Putri sampai Pakde-Bude pun nggak ngebolehin gue pacaran. Gue takut jadi penyebab kegagalan studi seorang cowok. Jadi… pacarannya nunggu sukses aja, deh!” curhat Roro.
                “Buset! Lo kayak didoktrin aja.”
                “Emang. Keluarga gue benar-benar keluarga yang kaku. Gue berasa kayak hidup dalam sangkar emas. Kebanyakan formalitas yang mengganggu langkah gue. Gue bener-bener nggak ngerasa bebas di keluarga gue sendiri. Mulai dari baju sampai hal-hal kecil aja diperhatiin mulu!”
                Mendengar hal itu, Winda menarik napas. Ia menengok masa lalunya. Ayah-ibunya cerai karena hadirnya orang ketiga. Bukan perselingkuhan, lebih tepatnya ayahnya merasa kasihan karena melihat perempuan miskin yatim-piatu. Winda benar-benar tidak menyukai keputusan ayahnya yang hendak menikahi perempuan itu. Lebih baik dijadikan pembantu. Ia menutup matanya sejenak, lalu membukanya lagi. Tandanya, masih ada yang menyayangi Roro.
                “Tapi, by the way, jomblo atau nggak, sih, tergantung lo-nya, Win. Lo mau fokus atau lo bisa jadiin cowok lo semangat atau nggak, kendali di lo.”
                Hujan turun semakin deras. Tapi, anehnya, petir tak menyambar. Namun, hawa dingin masih menyelimuti kamar dua insan yang begitu dekat itu.
                “Tumben lo kepikiran soal jodoh.”
                “Banyak yang ngomong kalau lo susah dapet jodoh pas masa-masa sekolah kayak begini, nanti jadi perawan tua. Ya kalau badan gue masih ramping. Kalau melar sana-sini? Makanya, Ro… setiap gue ngelihat hujan, entah kenapa hawa dingin yang datang selalu ngomong, ‘Kapan kamu punya seseorang yang siap nemenin lo di kala kedinginan dan memeluk lo dengan begitu hangatnya?’ Gue benci hujan. Karena hujan nggak pernah ngasih gue waktu buat mencarinya.” Winda langsung duduk di samping Roro setelah ia menandaskan makanannya. Ia tidur di atas paha sahabatnya itu. Roro membelainya lembut. Entah siapa yang akan membelai rambutnya di kala ia kedinginan seperti ini. Hari-hari ini, ia merasa begitu kosong. Tak seorang pun menemani.
                “Tenang aja, Win. Bakal ada seorang cowok yang mau nemenin lo sampai rambut lo putih. Gue jamin itu. Bawa harapan lo dalam doa. Tapi… sambil lo nyari juga, ya.”
                Dalam bayangannya, terpatri sosok Kevin tiba-tiba. Ah, mengapa kau datang begitu cepat saat kau butuh, meski aku tak bisa merengkuhmu? batinnya. Setiap ia menjemput Roro di Gedung F, di mana mahasiswa FBS[2] berkuliah untuk makan di Kafe Rindang, ia selalu melihat orang yang ingin ia sentuh. Walau sekali saja. Tubuh tinggi menjulang dengan badan yang lumayan berisi. Kulit cokelatnya. Matanya. Tulang hidung yang tinggi. Senyum dengan geligi yang selalu ditampilkannya. Apalagi ketika ia memakai baju rajut lengan panjang dengan jins belel.  Sepatu kets yang menutup kakinya dan memanggul tas kecil yang hampir mirip seperti pouch berwarna abu-abu.
                Dua kali kata ‘ah’ mampir di benak Winda.

                “Jangan pernah menyalahkan hal apapun, Win. Don’t blame yourself. Biarkan semuanya berjalan apa-adanya. Jika suatu saat lo jadian sama Kak Kevin, kan, lo sendiri yang seneng. Biar Tuhan yang mengatur semuanya. Ada kalanya lo mikir hal tersebut, tapi… jangan terlalu serius. Setelah selesai memikirkannya, endapkan, biarkan ia pergi. Hujan dan hawa dingin hanya benda yang Tuhan ciptakan. Jadi, ketika lo membenci yang namanya hujan, sama aja lo benci dengan Yang Menciptakan. Ngerti, kan, maksud gue? Biar Tuhan berkarya dalam setiap langkah lo.”
                Winda hanya bisa tersenyum hangat. Tiba-tiba, Samsung Galaxy S4-nya berbunyi. Satu SMS masuk. Ia terkejut. Kevin!
               
                Hey, I wanna ask you something, Girl. Wanna be my princess?

                Winda hanya tersenyum. Ia mengetikkan tiga kata untuk membalas SMS-nya. Yes. Ketika Roro melihatnya tersenyum-senyum sendiri, ia mengerti apa sebabnya. Berpikir positiflah, Win. Tuhan menciptakan kita berpasang-pasangan. Mungkin, dalam hati lo udah minta maaf sama Tuhan dan nggak mau lagi mikir aneh-aneh. Dan… see! He gives him, right? Roro yang tidak pernah memberi tahu bahwa Kevin sebenarnya menyukai Winda sejak awal pun merasa lega akan sahabatnya ini. Roro yang terlalu didoktrin tetapi masih bisa berpikir positif. Roro yang selama ini selalu berusaha mendekatkan Kevin dan Winda ketika bertemu dan berbicara berdua. Roro yang begitu senang dan selalu menyunggingkan senyum ketika dengan akrabnya mereka tertawa lepas. Terima kasih Tuhan. Kau telah memakaiku untuk memberikan senyum bagi sahabatku. Doanya malam itu. Dan… hujan pun berhenti..




[1] Fakultas Ekonomika dan Bisnis
[2] Fakultas Bahasa dan Sastra

Sabtu, 19 Oktober 2013

MATA... MATA... MATA...

Ketika kubuka kelopak mataku kala rinai hujan menyapa.
Kilauan cahaya berkilatan.
Banyak bibir meluncurkan pepatah bahwa mata adalah jendela hati.

Ya.
Mataku berkaca-kaca... sayu malah.
Aku tak tahu mataku ingin berbicara apa.
Hati ini memaksa mataku untuk mengatakan jeritannya.

Dari semalam ia menjerit.
Jeritan yang ada dari dalam hati.

Melihat bola matamu,
aku benar-benar merindumu.

Matamu yang memancarkan sesuatu ketika aku melihatnya.
Sipit.
Tetapi terkesan menarik.

Ah,
jangan tertawa.

Aku serius.

Dan jangan salahkan aku jika aku mencarimu...
Sekarang!

Selasa, 08 Oktober 2013

BERBAGI

Kelas Interpersoal Speaking, Selasa, 8 Oktober 2013

Aku masih bisa melangkah.
Tetapi…
Kaki ini masih bisa tegak berdiri.
Namun ia tak bisa tegak. Gontai. Gentar.
Kaki ini ingin berkata, “Mengapa kau berjalan sendiri?”

Aku masih bisa mendudukkan ragaku di kursi.
Tetapi…
Raga ini dapat diletakkan di kursi.
Namun jiwa ini tak menyeruakkan kenyamanan.
Jiwa ini berkata, “Mengapa kau duduk sendiri?”

Aku masih bisa tertawa.
Tetapi…
Hati dan perasaan ini begitu cerah.
Hingga membuatku ingin tersenyum malah.
Namun rasanya senyum ini mengatakan, “Mengapa kau tertawa sendiri?”

Ah.
Aku benar-benar tak pernah berpikir
Dan tak pernah habis pikir.
Entah mengapa begitu beraninya aku meluangkan semua waktuku
Sendiri.
Tanpa tahu ada kau yang bisa kuajak berbagi.

Salatiga, 081013

Jumat, 04 Oktober 2013

BERDARAH

Kau yang kubidik.
Kau yang kujadikan sasaran.
Ya, sasaran atas perasaan ini.

Perasaan yang sejak dahulu tak tertahankan.
Perasaan yang sejak dahulu selalu kusimpan.
Perasaan yang sejak dahulu menjalar tak tentu arah.
Perasaan yang sejak dahulu takkan kubiarkan begitu saja.

Namun, sayang.
Aku takut berdarah.

Ya,
aku takut sekali jika aku benar-benar berdarah.

Aku belum siap!

Ya.
Aku benar-benar belum siap berdarah.

dari seseorang yang tak siap membidik pelurunya.

Senin, 23 September 2013

TAK TENTU

Dia datang.
Aku pergi.
Dia datang lagi, dan aku pergi.

Aku datang.
Dia pergi.
Aku datang lagi, dan dia pergi lagi.

Entah kapan kami akan bertemu satu muka.

Waktu,
jawablah.

dari seseorang yang selalu menunggu.

Pencemburu

Selamat malam. Apa kabarmu? Sebenarnya aku tidak ingin menyapamu, Sayang. Aku hanya menyapamu karena sekedar ingin mempertahankan sopan santun belaka. Alangkah tidak sopannya apabila kalau sebuah perjumpaan tidak diawali dengan salam pembuka?

Baiklah. Aku akan sedikit berbasa-basi. Sudahkah kau mendiamkan badai dalam kantung te-ngahmu itu? Sudah, ya? Baguslah. Aku tak ingin kau terlihat tak sehat walaupun aku kini sedang dalam keadaan yang mengharuskanku berada dalam kungkungan penuh bara api. Aku ingin kau melihatku sebagai seorang yang berkepala dingin.

Cukup sudah aku berbasa-basi.

Sayang, kesetiaan sangat kita junjung dalam setiap nafas kita. Kala kita mulai merenda benang hingga menjadi sebuah kain yang akan melindungi kita dalam mengarungi dunia ini dengan cinta dan kasih. Di setiap kecupan yang kau daratkan di keningku. Kau tahu, Sayang? Setiap kecupan perpisahan yang kau daratkan menyulut semangat dalam menjejakkan kaki untuk mengarungi hari. Dan, kesetiaan itu juga ada dalam setiap jemarimu. Ya, jemari yang meng-genggam erat tanganku. Jemari yang kau gunakan untuk membelai setiap helai rambutku ketika kepalaku berada di bahumu dan kurasakan keraguan ada dalam hatiku. Kau, bagaikan sang pelaut yang begitu tangguhnya meredakan itu di  dalam hatiku. Seakan ketika kau berkata, “Tenanglah” di telingaku, badai itu langsung mereda.

Tapi… Sayang, mengertilah.

Cintaku takkan terbagi. Bahkan untuk orang yang tertampan sekalipun. Ya. Kau tahu, Sayang? Aku sangat sakit ketika kau mencemburuiku dan berkata, “Kamu sudah punya pacar, ya? Ya sudah. Bersenang-senanglah dengannya.” dan kau tak bertanya detil.

Mengertilah, Sayang.
Mengertilah.
Aku tak akan pernah berbagi cinta. Cintaku abadi. Bukan seperti bunga dandelion yang gampang tertiup angin.

Ketahuilah itu.
Hanya sekali ini sayang.
Aku tak mau berkali-kali kita membahas hal ini.
Titik.

Selamat tinggal.
Selamat bersenang-senang dengan anggapanmu karena aku akan terbang dengan seseorang yang dengan setia akan membentangkan sayap indahnya mengarungi dunia penuh pasak ini.

Aku bosan kau interogasi terus menerus. Jadi, lebih baik aku… meninggalkanmu. Selamanya. :)

Sekali lagi, selamat tinggal.

Dari seseorang,


Yang (sudah tak tahan lagi dan kesal) ingin meyakinkan kekasihnya.

NAKHODAMU KINI (Ketika Akhirnya Seorang Penumpang Menemukan Nakhodanya yang Baru)

Cinta.
Jangan pernah lagi kau sibakkan tirai itu.
Karena sekali kau sibakkan tirai di hadapanmu,
maka masa lalulah yang akan bersinar.

Mentari kemarin…
Maupun mentari yang terbit hari ini…
Akan tetap sama.
Berlalu dari singgasananya melalui jalur timur,
dan akan kembali ke singgasananya melalui jalur barat.

Langitpun masih sama.
Biru di kala terang,
dan kelam di kala gelap.

Mayapada yang akan kita arungi pun…
Takkan berubah.

Samudera yang akan kita jelajahi pun…
Masih membiru.

Cinta.
Tutuplah tirai itu.
Aku mohon, tutuplah.

Biar kubawa kau kembali mengarungi mayapada nan berpasak ini.
Tak kan kubiarkan kau tercebur kembali ke dalam tasik nan pedih ini.

Percayalah padaku.
Nakhodamu.
Kini.



Salatiga, 230913

Minggu, 22 September 2013

KAU KAH NAKHODAKU?

Aku bermimpi, suatu malam kau akan menjagaku...
Mengarungi mayapada dengan segala persoalan di dalamnya.
Kau peluk aku kala kita mengarunginya di samudera.

Tetapi, mengapa kapal kita tiba-tiba kau arahkan ke tasik nan pedih, Nakhodaku?
Dan... kau ceburkan aku di sana... 

Tak tahukah kamu kalau aku berjuang sendiri muncul dari tasik pedih?
Dan aku merintih minta tolong kepada-Nya agar diberikan kekuatan...
Untuk kembali mengarungi mayapada ini?

Sendiri.
Tanpamu.

Dan, ketika saat ini tak lagi cabar...
Dan menemuimu kembali, wahai Nakhodaku...
Kau telah mengarungi bahtera dengan seorang penumpang lain...

Aku bertanya:
Kau kah Nakhodaku?

Salatiga, 22 September
Terinspirasi dari lagu Nora Ariffin - Samudera

Sabtu, 21 September 2013

KETIKA CINTA BERBUNGA DI TEMPAT YANG SALAH


Salatiga, Ruang FKIP UKSW, 30 Agustus 2013


Untukmu, yang mampu membuat hatiku menari.
            Beberapa hari yang lalu, kamu membuatku bingung. Benar-benar bingung karena aku duduk di barisan terbelakang bersama sahabat-sahabatku yang baru. Aku ingin melihatmu. Rupamu. Wajahmu. Secara utuh tentunya. Dan kau mulai menampilkan bakatmu yang bisa kubilang sangat seksi. Kau menari. Gerak tubuhmu itulah yang membuatku berdiri dan ingin melihat gayamu yang sangat membuat darahku begitu cepatnya berdesir. Aku suka gayamu ketika kau menggunakan headphone. Kau memang tampak seperti ‘si cantik’. Dan kau berhasil membuat perasaanku perlahan menari.

Untukmu, yang dikaruniakan Tuhan wajah yang sangat sempurna.
Betapa baiknya Tuhan memahatmu dengan sempurna. Meski ku tahu ketika kau SMA tak ada menarik-menariknya sama sekali, seiring pertumbuhan kau begitu memikat. Rambutmu yang keriting tetapi terkadang kau buat menjadi fuzzy itu membuatmu mudah kukenal. Apalagi ketika kau putuskan menggunakan softlens di matamu. Atau… ketika kau mengenakan kaca-mata yang seharusnya dapat digunakan oleh seorang kakek. Namun, kacamata itu membuatmu terkesan unik.

Untukmu, yang punya segudang agenda.
            Kau begitu hebat! Sangat, malah. Ternyata, kau punya segudang agenda yang harus kau jalani. Dan, kau masih bisa mengatur antara kuliah dan agendamu dengan baik. Ah, itu pula salah satu hal yang membuatmu menyukaimu. Selain kau dipahat-Nya dengan begitu rupawan, kau juga memiliki otak yang membuat orang-orang bisa ber-ah dan ber-ooh.

Untukmu, yang membuatku menyadari bahwa aku menabur cinta di lahan yang salah.
            Aku begitu mengagumimu. Sangat. Aku selalu merasa salah tingkah ketika melihatmu berjalan. Aku begitu menyukaimu. Sungguh. Tetapi, kau buat aku menangis, dan membuat hatiku beralih arah. Dari seorang penyuka dan pengagum, kini aku harus menjadi penonton setiap kemesraan yang kau buat, dan aku harus ikhlas karenanya.
            Aku tak mau harus membagi cintaku, atau harus rela melihatmu mengukir senyum di bibirmu ketika kau harus berjalan kepadanya. Bodoh… aku sungguh bodoh. Mengapa aku mengharapkan seseorang yang tak pernah berharap padaku? Namun, terima kasih karena engkau telah membuat benakku menyadari sesuatu. Mengagumimu bukanlah suatu kejahatan. Terima kasih karena telah membuatku begitu mengagumimu. Meski aku harus menerima kalau kau… sudah berdua.

Dari seseorang yang cintanya (selalu) tak pernah sampai.

UNTUK KAMU (YANG TERPAKSA) HARUS KUJADIKAN PENYEMANGAT

Aneh.
Kenapa kamu datang tiba-tiba di saat aku tidak lagi mengagumi dirinya?
Memang. Aneh. Sangat aneh.

Kamu. Ya, kamu.
Kamu yang pertama kali kulihat.
Kamu yang pertama kali membuat aku berubah,
bahwa masalah wajah tak penting.
Yang penting adalah pesona.

Ya. Pesonamu begitu langka.
Namun, entah kenapa pesonamu tak bisa kusimpan?
Tiap malam, kau begitu sulit hadir dalam setiap perjalananku,
Kala aku mulai mengarungi malam di ranjangku.

Kau pun begitu baik.
Benakmu luas membentang.
Tak merasa jijik melihatku yang agak sedikit berlebihan dalam menanggapi segala sesuatu.

Namun…
Kamu pun punya banyak agenda yang harus kamu jalani.
Mulai dari evaluasi hasil kerja…
Hingga evaluasi hati bersamanya.

Ah. Sudahlah.
Tak ada gunanya meratap.
Biar kau kujadikan penyemangat di setiap langkahku.

Meski… setiap kujelingkan mata ini,
Aku merasakan jalaran aneh.

Dari seseorang…

Yang tak tahu bagaimana harus mengatakannya.

Minggu, 18 Agustus 2013

Jangan Menuntut!


Laptop terbuka, modem bekerja. Dengan sempurna. Warnanya biru muda pula, tanda bahwa kecepatannya melesat. Sebenarnya, Betari tak mampu menahan getaran yang berdegup kencang di dadanya itu. Kini masa depannya sedang dipertaruhkan. PTN atau PTS? Ah, biar jawaban-Nya yang datang.
          Diketikkannya nomor peserta itu perlahan, agar tidak keliru. Kata Mamanya, untuk urusan seperti ini, silap sedikit… bisa-bisa kacau! Tanggal lahir pun sudah diketikkannya. Enam belas Mei seribu sembilan ratus sembilan puluh lima. Kursor kini bergerak menuju tombol “Lihat Hasil”. Dan, jawaban-Nya atas doa yang dipanjatkannya selama ini adalah…

Maaf, Anda tidak lulus SBMPTN 2013.

          Diketikkannya lagi nomor peserta dan tanggal lahirnya. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Berharap agar bukan kalimat itu yang dipandanginya. Dan, tetap. Kalimat itu yang hadir dalam pandangannya. Ibunya benar-benar tak percaya. Namun, kekecewaannya yang mendalam itu disimpan. Disembunyi-kannya dari hadapan anaknya.
          “Ma, maaf… Tari nggak lulus,” katanya lirih. “Tari sudah berusaha semaksimal yang Tari bisa.” Setitik air mata mulai menetes di matanya. Di pipinya yang benar-benar bersih itu. Ibunya hanya mengelus-elus rambutnya. Jika dilihat pola belajarnya selama ini dan hasil-hasil try out di bimbingan belajar tempat ia mempersiapkan seluruh perlengkapan perang yang akan digunakannya. Apakah dia menembakkan panah itu ke arah yang salah? Atau jangan-jangan dia kehabisan peluru dan misil-misilnya? Hanya Betari Dianrini yang tahu.
          Mama menelepon Papa untuk mengabarkan ketidaklulusannya itu. Disusul dengan permintaan maaf Betari. Lalu, dikabarkannya ketidaklulusan yang menimpa dirinya itu ke seluruh sahabat dan guru-guru lesnya. Dan jawabannya hanya satu, bersabarlah. Untunglah, Betari sudah mendaftarkan dirinya di salah satu universitas swasta di Jakarta. Universitas yang menurutnya tidak gombal dan mem-berikan janji-janji yang… muluk.
          Ia membuka website universitas swasta yang akan ditempatinya segera.

*

          Pagi hari, Mama sudah menghitung uang untuk ditransfer ke bank. Betari yang bangun agak siang duduk di hadapan Mamanya. Masih terbayang dalam benaknya peristiwa delapan Juli kemarin. Pas ulang tahun pernikahan orang tuanya. Mamanya menangis. Ia hapus air matanya, dan meluncurkan sebuah kalimat dari bibirnya, “Seharusnya kamu bertanggung jawab sampai ke titik ini.”
          Betari hanya diam.
          “Kamu sudah memilik jurusanmu. IPS pula. Mama nggak memaksa kamu untuk memilih juru-san IPA karena Mama mengetahui kemampuanmu. Mbok, ya, kamu bertanggung jawab. Belajar dengan sungguh. Sejak kapan seseorang yang akan menghadapi tes masuk universitas negeri belajar dengan terlentang, tiduran di kamar tamu, dan ber-twitter ria sambil membalas SMS di HP-nya? Benar-benar kamu!”
          Betari hanya diam. Tetapi, air matanya meluncur. Kenapa, sih, mesti Mama singgung lagi? Betari berlari ke kamar. Hanya bisa menangis. Sebenarnya, Betari tidak bisa menerima “kekalahannya”. Sejak tidur semalam, ia memang tampak nyenyak. Tapi? Dalamnya laut bisa diselami, tetapi dalam nya hati siapa yang bisa menyelami.       
          “Sekarang Mama mau tanya. Menyesalkah kamu akan tindakanmu itu? Karena berbeda artinya jika peribahasa bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian dibalik menjadi bersenang-senang dahulu bersakit-sakit kemudian. Dan inilah yang terjadi. Kamu harus merasakan sakitnya ketidaklulusan itu!”
          “Tari… menyesal, Ma,” Betari menyesal. Mengapa tiga hari sebelum ujian dia malah menonton Man of Steel bersama teman-temannya? 
          “Berarti kamu belum bisa menghadapi dan mengenyahkan godaan setan. Ajakan teman-temanmu itu godaan setan, tahu!”
          “Maafkan Tari, Ma! Maafkan Tari!”
          “Sudah. Yang sudah, ya sudah. Tak usah kamu sesali. Yang jelas, kamu buktikan bahwa anggapan orang bahwa kuliah di PTS sama hebatnya dengan kuliah di PTN. Karena… Mama berpendapat percuma berkuliah tinggi di PTN kenamaan kalau otakmu tak sampai. Tiga setengah sampai paling lambat empat tahun. Agar kalau ada berkat kamu bisa mengambil S2 di PTN. Yang penting, derajat keluarga kita terangkat. Betapa susah mengangkat derajat keluarga!”
          “Ya, Ma. Tari mengerti!”


*

          “Gimana, Tar? Jebol nggak?” tanya Serafina, teman seperjuangannya. Mereka berada di Mokko Factory, tempat donat-donat manis dan lezat berada dan minuman-minuman yang superenak bertengger. Mereka duduk di sebuah kursi. Berhadapan. Betari hanya terbengong-bengong. Harus bagaimana menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Di depannya, banyak orang yang lalu-lalang. Jelas, karena mereka berada di mal.
          “Kagak, Fin. Enak, ya, lo. Jebol meski jurusannya FKIP.”
          “Ah, ini bukan jurusan yang gue seneng juga kok. Gue mau Sastra, bukan FKIP.” kata Serafina yang akhirnya mesti menghadapi kenyataan kalau dia mendapatkan pilihannya yang ketiga. Pilihannya sama seperti apa yang diinginkan Betari. Sastra. Dan FKIP di universitas tempatnya tinggal ini adalah sebagai syarat agar dia mendapatkan tempat agar bisa tes di sini. “Lagipula, ngapain gue sekolah bertahun-tahun di sekolah yang sama dari TK sampai SMA ini kalau gue… jebol hanya di PTN setempat?”
          “Tapi lo bakal ambil, kan?” tanya Betari.
          “Ya iyalah. Bokap, kok, yang nuntut. Dia nggak punya biaya kalau terpaksanya gue kuliah di PTS.” Kafe itu memiliki WiFi, jadi Serafina mengambil ponsel android-nya dan mengaktifkan untuk bermain internet. Membuka twitter-nya.
          “Fin, Tuhan bener-bener nggak adil, ya, sama gue! Lo dikasih yang bagus, tapi… gue enggak. Belajar gue bukan belajarnya orang gila yang kepengen banget masuk ITB atau UI. Bahkan, UGM sekalipun.”
          “Ya itulah, ada rupa, ada harga. Ada harga yang harus lo bayar biar bisa masuk universitas prestisius kayak begitu. Bahkan, Unila sekalipun. Kalau lo mau masuk UI tapi belajarnya ogah-ogahan kayak siput, ya gimana Tuhan mau ngasih? Tapi lo nggak semestinya ngomong kalau Tuhan nggak adil. Jangan pernah menuntut.”
          “Tapi gue udah berdoa. Cowok gue, Attala, lulus di UI. Berharap biar gue bisa nyusul dia dan kuliah bareng… eh, kenapa harus beda universitas, sih?”
          “Ya nggak tahu, ya. Kan kalian sama-sama di Jakarta. Ya… masih bisa ketemu, lah seenggaknya, Tar.”
          “Doain aja Attala gak mutusin gue hanya gara-gara gak jebol di PTN.”
          Serafina tertawa. “Konyol banget kalau Attala benar-benar ngelakuin kayak begituan.” Betari hanya tersenyum simpul. Tapi kuluman senyumnya berubah seketika menjadi kuluman bibir yang melengkung ke bawah karena dia melihat Attala melingkari lengannya di perut Chandra. Ditemani Niko, Haris, dan Reska.
          Betari menampari dua sisi pipinya. Berharap kalau bukan itu yang ada dalam pandangannya ini. “Nggak beneran, kan, Fin?”
          “Ya iyalah nggak…” Serafina mengibaskan tangannya. “Sampai si Tala berani ngelakuin kayak begitu… liat aja. Gue bogem habis-habisan.”
          “M…mung…mungkin… lo boleh bogem dia sekarang…”
          “Maksud lo apaan, Tar?” Serafina tersenyum heran.
          “Lo boleh balik kepala sekarang!”
          Dan Serafina sudah mengepalkan tinjunya ketika melihat Attala berpelukan dengan Chandra.

*

          Dengan lemas Betari melangkahkan kakinya di rumahnya, sampai Senia, adiknya sendiri, heran melihatnya. Dari meja makan, ia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dan melihat kakaknya terhuyung pingsan di dinding. Tepat di depan meja ruang tamu.
          “Lha ngapa sore-sore melorot kayak ular keket?” tanyanya. Biasa, nyablak. Khas adiknya. Dia membopong kakaknya menuju kursi sofanya. Betari hanya bisa terengah-engah. Senia menuju dapur dan mengambilkan segelas air untuk kakaknya. Kakaknya yang menggunakan t-shirt biru muda dan jins biru gelap dan tas rotan dengan pulasan make up yang alami itu tampak benar-benar seperti kertas yang baru di-gremet-gremet. Ia menepuk pundak kakaknya. “Nih minum dulu. Udah lega baru lo cerita.”
          Betari menenggak airnya perlahan. Lalu menghela napasnya. Berat sekali. “Itu hanya mimpi aja, kan, yang gue lihat tadi siang?”
          “Liat apaan lo, Kak?” tanya Senia. Ia menatap kakaknya heran. “Liat dedemit?”
          “Gak. Lebih dari dedemit.” Matanya berkunang-kunang tiba-tiba. Ia melihat adiknya seakan-akan seperti melihat tujuh belas jin yang bersarang di sofa ruang tamunya. Haduh, kakak gue keliyengan , nih!  Bawa masuk kamar dulu, deh! pikir Senia.
          “Kak, mending lo gue bawa ke kamar dulu, deh. Ada yang nggak beres, nih, sama lo,” kata Senia.
          “Ya udah, deh.” jawab Betari pasrah. Senia lalu perlahan membawa Betari menuju kamarnya. Dibaringkannya kakaknya di kamar dan ditariknya selimut setelah AC di kamarnya dihidupkan. Kamar Betari benar-benar rapi. Beda dengan kamar Senia, 180 derajat malah. Buku-buku di raknya mulai dari novel sampai pelajaran lurus-lurus berdiri. Debu tak pernah hinggap sedikitpun di meja belajarnya. Kardus-kardus tempat menyimpan buku-buku bekasnya ditatanya rapi bertumpuk di sudut ruangan. Cat kamar berwarna putih menambah tenangnya suasana kamar itu. Benar-benar seperti berada di kamar seorang putri.
          “Gue telepon Mama dulu, ya!” cepat-cepat Senia mengambil ponsel di kamarnya. Namun, langkahnya seketika terhenti oleh teriakan Betari.
          “Jangan!” teriaknya sekuat tenaga. “Nanti malah jadi beban pikirannya Mama!”
          “Seenggaknya biar pas pulang Mama bawa obat. Kalau nggak, Mbak Lilik yang bakal mijat elo.”
          “Ngapain dipijat?”
          “Pijat bakal bikin lo merasa lebih baik.”
          Dengan sekuat tenaganya pula Betari bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar adiknya. Walaupun terkadang adiknya benar-benar bandel, tetapi dia memiliki rasa kasih sayang terhadap kakaknya. “Makasih, ya, Nia.” Dipeluknya adiknya. “Tapi minum obat aja udah cukup buat gue.”

*

          “Kenapa kamu keliyengan begini, sih, Nak? Mama jadi khawatir sama kamu!” seru Mama khawatir ketika mengantarkan makanan menuju kamar anak sulungnya itu. “Kamu makan dulu, ya. Nih, Mama beliin mi ifu goreng dari restorannya Bu Mei samping tokonya  Tante Sinta.”    
          “Ma… Betari nggak habis pikir. Apa ini teguran Tuhan buat Tari atas semua kelalaian yang udah Tari lakukan?” lirih Betari. “Tapi Tuhan benar-benar jahat sama Tari. Tari udah baca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu dan memanjatkan doa biar Tari lulus. Tari udah ngelakuin semuanya. Belajar, dan Tari mengerti apa salah Tari sampai Tari ngelihat kenyataan kalau Tari harus masuk PTS dan Tari benar-benar nggak nyangka kalau pacar Tari sebejat itu. Karena nggak satu tempat kuliah Tari diputusin dengan cara yang nggak etis dan di mal dia tadi meluk Chandra, Ma. Chandra Dewintasari! Tari benar-benar nggak habis pikir!”
          “Cukup, Betari!” tegas sang Mama. Tak tahan telinganya mendengar rutukan anaknya itu. “Nggak pantas kamu berburuk sangka sama Yang Di Atas!”
          “Tapi pasti Tuhan jahat sama Betari, Ma! Tuhan benar-benar nggak sayang sama Betari!” kini Tari mulai terisak dan tangisnya makin menjadi. “Tuhan jahat sama Betari, Ma! INI NGGAK ADIL!”
          Mama tertegun melihat Betari yang mulai mengisak. Anak gadisnya ini mulai berubah menjadi seorang perempuan kecil ketika menangis terisak seperti ini. Dibelainya kepala anaknya dan dikecupnya lembut saat ia sudah berada dalam pelukannya.
          “Tari, dengar cerita Mama. Ada seorang anak kecil yang ingin meminta seekor kura-kura kepada Tuhan. Ia memohon-mohon kepada Tuhan ketika menunggu. Ketika ia mendapatkan jawaban darinya, dia malah mendapatkan seekor kepompong. Dituntutnya Tuhan karena ia meminta kura-kura, bukan kepompong. Tanpa sadar saat ia tidur, ia melihat si kepompong berme-tamorfosis menjadi seekor kupu-kupu dengan sayap yang indah. Kamu tahu kan artinya?”
          Isakan Betari perlahan mulai berhenti dan ia berkata, “Rencana-Nya beda dengan rencana kita, kan?”
          “Nah, itu kamu sudah mengerti. Sekarang, hapus air matamu. Minta ampun kepada Tuhan dan selesaikan semua masalahmu. Uangnya tadi sudah ditransfer, kan?”
          “Baik. Sudah, Ma.”

*

          Di Solaria, dia bertemu Attala. Bedanya, kini dia datang sendiri. Serafina berbisik kepada Betari, “Udah, lo samperin tuh si jahanam penguasa neraka!”
          “Beres!”
          “Asal, lo pake kepala dingin, ya. Jangan lo nyalain tuh sumbu kompor.”
          Sengaja di Solaria mereka memilih tempat duduk paling ujung. Di sudut. Betari mulai melangkah duduk di hadapan Attala. Dia tampak cantik dengan kardigan merah dengan dalaman kaus hitam dan legging abu-abu yang benar-benar serasi dengan flatshoes pinknya. Sementara pacarnya, Attala Wibisono, yang bermata bulat, berkulit bersih, berambut ikal, berhidung mancung, dan memberikan wajah yang berkarisma ketika tersenyum itu menatap Betari terkejut.
          “T…Ta…Tari? Ng…ngapain kamu di sini?”
          “Buang keringat. Ya, nggaklah, gue mau makan sama Fina di pojokan,” Betari berkata dengan sedikit ketus.
          “Oh,” tanggap Attala. Matanya mulai berkaca-kaca.
          “Ada hubungan apa kamu sama Chandra? Kamu kan tahu kalau kamu masih sama aku. Apa karena kabar kalau aku nggak lulus itu makanya kamu selingkuh sama Chandra? Dia, kan, sama-sama di UI.”
          “Kamu… kamu nggak lulus?” kaca yang berada dalam matanya retak sudah dan berganti menjadi belalakan. “How come?
          Kata-kata itu membuat Betari juga sama terkejutnya. Attala baru tahu kalau Betari nggak lulus? Benar-benar sulit dipercaya. “Kamu baru tahu a… aku nggak lulus?”
          “Ya. Dan gue baru tahu.” kata Attala serius. “Masalah Chandra, Chandra udah diputusin sama si Reska. Si Chandra sengaja ngerenggut tangan aku biar ngelingkerin pinggangnya dan dia meluk aku duluan. Dan Reska terkejut melihatnya. Itu pas si Reska lagi cari-cari batik buat bokapnya, dia curi-curi kesempatan. Dari dulu dia nggak ikhlas kalau rupanya dia jadian sama si Reska.”
          Benar-benar di luar kesadaran. Betari membatin. “Terus…”
          “Tenang,” Attala meremas tangan Betari lembut. “Hubungan kita nggak bakalan berakhir hanya gara-gara alasan konyol begini. Kamu, kan, masih bisa coba lagi tahun depan.” Diraihnya tangan Betari dan dikecupnya. Cepat-cepat Attala melepas tangan Betari ketika mengetahui Serafina sudah berada di dekatnya.
          “Nggak jadi ngebogem si Attala, nih, Tar?” tanyanya menggoda.
          “Nggak!” kata Betari. “Justru gue udah kebogem sama kesetiaannya Attala. Udah cukup gue dibogem sama Tuhan gara-gara nggak lulus. Pasti Tuhan ngasih yang lebih indah. Dan ini salah satunya.”
          “Makanya,” kata Serafina. “Jangan menuntut Tuhan!”
          Mereka tertawa.

Bandarlampung, 11 Agustus 2013 | 20:10 WIB