Salatiga, Ruang FKIP UKSW,
30 Agustus 2013
Untukmu, yang mampu membuat hatiku menari.
Beberapa
hari yang lalu, kamu membuatku bingung. Benar-benar bingung karena aku duduk di
barisan terbelakang bersama sahabat-sahabatku yang baru. Aku ingin melihatmu.
Rupamu. Wajahmu. Secara utuh tentunya. Dan kau mulai menampilkan bakatmu yang
bisa kubilang sangat seksi. Kau menari. Gerak tubuhmu itulah yang membuatku
berdiri dan ingin melihat gayamu yang sangat membuat darahku begitu cepatnya
berdesir. Aku suka gayamu ketika kau menggunakan headphone. Kau memang
tampak seperti ‘si cantik’. Dan kau berhasil membuat perasaanku perlahan
menari.
Untukmu, yang dikaruniakan Tuhan wajah yang sangat
sempurna.
Betapa baiknya Tuhan
memahatmu dengan sempurna. Meski ku tahu ketika kau SMA tak ada
menarik-menariknya sama sekali, seiring pertumbuhan kau begitu memikat.
Rambutmu yang keriting tetapi terkadang kau buat menjadi fuzzy itu
membuatmu mudah kukenal. Apalagi ketika kau putuskan menggunakan softlens
di matamu. Atau… ketika kau mengenakan kaca-mata yang seharusnya dapat
digunakan oleh seorang kakek. Namun, kacamata itu membuatmu terkesan unik.
Untukmu, yang punya segudang agenda.
Kau
begitu hebat! Sangat, malah. Ternyata, kau punya segudang agenda yang harus kau
jalani. Dan, kau masih bisa mengatur antara kuliah dan agendamu dengan baik.
Ah, itu pula salah satu hal yang membuatmu menyukaimu. Selain kau dipahat-Nya
dengan begitu rupawan, kau juga memiliki otak yang membuat orang-orang bisa
ber-ah dan ber-ooh.
Untukmu, yang membuatku menyadari bahwa aku menabur
cinta di lahan yang salah.
Aku
begitu mengagumimu. Sangat. Aku selalu merasa salah tingkah ketika melihatmu
berjalan. Aku begitu menyukaimu. Sungguh. Tetapi, kau buat aku menangis, dan
membuat hatiku beralih arah. Dari seorang penyuka dan pengagum, kini aku harus
menjadi penonton setiap kemesraan yang kau buat, dan aku harus ikhlas
karenanya.
Aku
tak mau harus membagi cintaku, atau harus rela melihatmu mengukir senyum di
bibirmu ketika kau harus berjalan kepadanya. Bodoh… aku sungguh bodoh. Mengapa
aku mengharapkan seseorang yang tak pernah berharap padaku? Namun, terima kasih
karena engkau telah membuat benakku menyadari sesuatu. Mengagumimu bukanlah
suatu kejahatan. Terima kasih karena telah membuatku begitu mengagumimu. Meski
aku harus menerima kalau kau… sudah berdua.
Dari seseorang yang
cintanya (selalu) tak pernah sampai.