Senin, 23 September 2013

TAK TENTU

Dia datang.
Aku pergi.
Dia datang lagi, dan aku pergi.

Aku datang.
Dia pergi.
Aku datang lagi, dan dia pergi lagi.

Entah kapan kami akan bertemu satu muka.

Waktu,
jawablah.

dari seseorang yang selalu menunggu.

Pencemburu

Selamat malam. Apa kabarmu? Sebenarnya aku tidak ingin menyapamu, Sayang. Aku hanya menyapamu karena sekedar ingin mempertahankan sopan santun belaka. Alangkah tidak sopannya apabila kalau sebuah perjumpaan tidak diawali dengan salam pembuka?

Baiklah. Aku akan sedikit berbasa-basi. Sudahkah kau mendiamkan badai dalam kantung te-ngahmu itu? Sudah, ya? Baguslah. Aku tak ingin kau terlihat tak sehat walaupun aku kini sedang dalam keadaan yang mengharuskanku berada dalam kungkungan penuh bara api. Aku ingin kau melihatku sebagai seorang yang berkepala dingin.

Cukup sudah aku berbasa-basi.

Sayang, kesetiaan sangat kita junjung dalam setiap nafas kita. Kala kita mulai merenda benang hingga menjadi sebuah kain yang akan melindungi kita dalam mengarungi dunia ini dengan cinta dan kasih. Di setiap kecupan yang kau daratkan di keningku. Kau tahu, Sayang? Setiap kecupan perpisahan yang kau daratkan menyulut semangat dalam menjejakkan kaki untuk mengarungi hari. Dan, kesetiaan itu juga ada dalam setiap jemarimu. Ya, jemari yang meng-genggam erat tanganku. Jemari yang kau gunakan untuk membelai setiap helai rambutku ketika kepalaku berada di bahumu dan kurasakan keraguan ada dalam hatiku. Kau, bagaikan sang pelaut yang begitu tangguhnya meredakan itu di  dalam hatiku. Seakan ketika kau berkata, “Tenanglah” di telingaku, badai itu langsung mereda.

Tapi… Sayang, mengertilah.

Cintaku takkan terbagi. Bahkan untuk orang yang tertampan sekalipun. Ya. Kau tahu, Sayang? Aku sangat sakit ketika kau mencemburuiku dan berkata, “Kamu sudah punya pacar, ya? Ya sudah. Bersenang-senanglah dengannya.” dan kau tak bertanya detil.

Mengertilah, Sayang.
Mengertilah.
Aku tak akan pernah berbagi cinta. Cintaku abadi. Bukan seperti bunga dandelion yang gampang tertiup angin.

Ketahuilah itu.
Hanya sekali ini sayang.
Aku tak mau berkali-kali kita membahas hal ini.
Titik.

Selamat tinggal.
Selamat bersenang-senang dengan anggapanmu karena aku akan terbang dengan seseorang yang dengan setia akan membentangkan sayap indahnya mengarungi dunia penuh pasak ini.

Aku bosan kau interogasi terus menerus. Jadi, lebih baik aku… meninggalkanmu. Selamanya. :)

Sekali lagi, selamat tinggal.

Dari seseorang,


Yang (sudah tak tahan lagi dan kesal) ingin meyakinkan kekasihnya.

NAKHODAMU KINI (Ketika Akhirnya Seorang Penumpang Menemukan Nakhodanya yang Baru)

Cinta.
Jangan pernah lagi kau sibakkan tirai itu.
Karena sekali kau sibakkan tirai di hadapanmu,
maka masa lalulah yang akan bersinar.

Mentari kemarin…
Maupun mentari yang terbit hari ini…
Akan tetap sama.
Berlalu dari singgasananya melalui jalur timur,
dan akan kembali ke singgasananya melalui jalur barat.

Langitpun masih sama.
Biru di kala terang,
dan kelam di kala gelap.

Mayapada yang akan kita arungi pun…
Takkan berubah.

Samudera yang akan kita jelajahi pun…
Masih membiru.

Cinta.
Tutuplah tirai itu.
Aku mohon, tutuplah.

Biar kubawa kau kembali mengarungi mayapada nan berpasak ini.
Tak kan kubiarkan kau tercebur kembali ke dalam tasik nan pedih ini.

Percayalah padaku.
Nakhodamu.
Kini.



Salatiga, 230913

Minggu, 22 September 2013

KAU KAH NAKHODAKU?

Aku bermimpi, suatu malam kau akan menjagaku...
Mengarungi mayapada dengan segala persoalan di dalamnya.
Kau peluk aku kala kita mengarunginya di samudera.

Tetapi, mengapa kapal kita tiba-tiba kau arahkan ke tasik nan pedih, Nakhodaku?
Dan... kau ceburkan aku di sana... 

Tak tahukah kamu kalau aku berjuang sendiri muncul dari tasik pedih?
Dan aku merintih minta tolong kepada-Nya agar diberikan kekuatan...
Untuk kembali mengarungi mayapada ini?

Sendiri.
Tanpamu.

Dan, ketika saat ini tak lagi cabar...
Dan menemuimu kembali, wahai Nakhodaku...
Kau telah mengarungi bahtera dengan seorang penumpang lain...

Aku bertanya:
Kau kah Nakhodaku?

Salatiga, 22 September
Terinspirasi dari lagu Nora Ariffin - Samudera

Sabtu, 21 September 2013

KETIKA CINTA BERBUNGA DI TEMPAT YANG SALAH


Salatiga, Ruang FKIP UKSW, 30 Agustus 2013


Untukmu, yang mampu membuat hatiku menari.
            Beberapa hari yang lalu, kamu membuatku bingung. Benar-benar bingung karena aku duduk di barisan terbelakang bersama sahabat-sahabatku yang baru. Aku ingin melihatmu. Rupamu. Wajahmu. Secara utuh tentunya. Dan kau mulai menampilkan bakatmu yang bisa kubilang sangat seksi. Kau menari. Gerak tubuhmu itulah yang membuatku berdiri dan ingin melihat gayamu yang sangat membuat darahku begitu cepatnya berdesir. Aku suka gayamu ketika kau menggunakan headphone. Kau memang tampak seperti ‘si cantik’. Dan kau berhasil membuat perasaanku perlahan menari.

Untukmu, yang dikaruniakan Tuhan wajah yang sangat sempurna.
Betapa baiknya Tuhan memahatmu dengan sempurna. Meski ku tahu ketika kau SMA tak ada menarik-menariknya sama sekali, seiring pertumbuhan kau begitu memikat. Rambutmu yang keriting tetapi terkadang kau buat menjadi fuzzy itu membuatmu mudah kukenal. Apalagi ketika kau putuskan menggunakan softlens di matamu. Atau… ketika kau mengenakan kaca-mata yang seharusnya dapat digunakan oleh seorang kakek. Namun, kacamata itu membuatmu terkesan unik.

Untukmu, yang punya segudang agenda.
            Kau begitu hebat! Sangat, malah. Ternyata, kau punya segudang agenda yang harus kau jalani. Dan, kau masih bisa mengatur antara kuliah dan agendamu dengan baik. Ah, itu pula salah satu hal yang membuatmu menyukaimu. Selain kau dipahat-Nya dengan begitu rupawan, kau juga memiliki otak yang membuat orang-orang bisa ber-ah dan ber-ooh.

Untukmu, yang membuatku menyadari bahwa aku menabur cinta di lahan yang salah.
            Aku begitu mengagumimu. Sangat. Aku selalu merasa salah tingkah ketika melihatmu berjalan. Aku begitu menyukaimu. Sungguh. Tetapi, kau buat aku menangis, dan membuat hatiku beralih arah. Dari seorang penyuka dan pengagum, kini aku harus menjadi penonton setiap kemesraan yang kau buat, dan aku harus ikhlas karenanya.
            Aku tak mau harus membagi cintaku, atau harus rela melihatmu mengukir senyum di bibirmu ketika kau harus berjalan kepadanya. Bodoh… aku sungguh bodoh. Mengapa aku mengharapkan seseorang yang tak pernah berharap padaku? Namun, terima kasih karena engkau telah membuat benakku menyadari sesuatu. Mengagumimu bukanlah suatu kejahatan. Terima kasih karena telah membuatku begitu mengagumimu. Meski aku harus menerima kalau kau… sudah berdua.

Dari seseorang yang cintanya (selalu) tak pernah sampai.

UNTUK KAMU (YANG TERPAKSA) HARUS KUJADIKAN PENYEMANGAT

Aneh.
Kenapa kamu datang tiba-tiba di saat aku tidak lagi mengagumi dirinya?
Memang. Aneh. Sangat aneh.

Kamu. Ya, kamu.
Kamu yang pertama kali kulihat.
Kamu yang pertama kali membuat aku berubah,
bahwa masalah wajah tak penting.
Yang penting adalah pesona.

Ya. Pesonamu begitu langka.
Namun, entah kenapa pesonamu tak bisa kusimpan?
Tiap malam, kau begitu sulit hadir dalam setiap perjalananku,
Kala aku mulai mengarungi malam di ranjangku.

Kau pun begitu baik.
Benakmu luas membentang.
Tak merasa jijik melihatku yang agak sedikit berlebihan dalam menanggapi segala sesuatu.

Namun…
Kamu pun punya banyak agenda yang harus kamu jalani.
Mulai dari evaluasi hasil kerja…
Hingga evaluasi hati bersamanya.

Ah. Sudahlah.
Tak ada gunanya meratap.
Biar kau kujadikan penyemangat di setiap langkahku.

Meski… setiap kujelingkan mata ini,
Aku merasakan jalaran aneh.

Dari seseorang…

Yang tak tahu bagaimana harus mengatakannya.