Minggu, 18 Agustus 2013

Jangan Menuntut!


Laptop terbuka, modem bekerja. Dengan sempurna. Warnanya biru muda pula, tanda bahwa kecepatannya melesat. Sebenarnya, Betari tak mampu menahan getaran yang berdegup kencang di dadanya itu. Kini masa depannya sedang dipertaruhkan. PTN atau PTS? Ah, biar jawaban-Nya yang datang.
          Diketikkannya nomor peserta itu perlahan, agar tidak keliru. Kata Mamanya, untuk urusan seperti ini, silap sedikit… bisa-bisa kacau! Tanggal lahir pun sudah diketikkannya. Enam belas Mei seribu sembilan ratus sembilan puluh lima. Kursor kini bergerak menuju tombol “Lihat Hasil”. Dan, jawaban-Nya atas doa yang dipanjatkannya selama ini adalah…

Maaf, Anda tidak lulus SBMPTN 2013.

          Diketikkannya lagi nomor peserta dan tanggal lahirnya. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Berharap agar bukan kalimat itu yang dipandanginya. Dan, tetap. Kalimat itu yang hadir dalam pandangannya. Ibunya benar-benar tak percaya. Namun, kekecewaannya yang mendalam itu disimpan. Disembunyi-kannya dari hadapan anaknya.
          “Ma, maaf… Tari nggak lulus,” katanya lirih. “Tari sudah berusaha semaksimal yang Tari bisa.” Setitik air mata mulai menetes di matanya. Di pipinya yang benar-benar bersih itu. Ibunya hanya mengelus-elus rambutnya. Jika dilihat pola belajarnya selama ini dan hasil-hasil try out di bimbingan belajar tempat ia mempersiapkan seluruh perlengkapan perang yang akan digunakannya. Apakah dia menembakkan panah itu ke arah yang salah? Atau jangan-jangan dia kehabisan peluru dan misil-misilnya? Hanya Betari Dianrini yang tahu.
          Mama menelepon Papa untuk mengabarkan ketidaklulusannya itu. Disusul dengan permintaan maaf Betari. Lalu, dikabarkannya ketidaklulusan yang menimpa dirinya itu ke seluruh sahabat dan guru-guru lesnya. Dan jawabannya hanya satu, bersabarlah. Untunglah, Betari sudah mendaftarkan dirinya di salah satu universitas swasta di Jakarta. Universitas yang menurutnya tidak gombal dan mem-berikan janji-janji yang… muluk.
          Ia membuka website universitas swasta yang akan ditempatinya segera.

*

          Pagi hari, Mama sudah menghitung uang untuk ditransfer ke bank. Betari yang bangun agak siang duduk di hadapan Mamanya. Masih terbayang dalam benaknya peristiwa delapan Juli kemarin. Pas ulang tahun pernikahan orang tuanya. Mamanya menangis. Ia hapus air matanya, dan meluncurkan sebuah kalimat dari bibirnya, “Seharusnya kamu bertanggung jawab sampai ke titik ini.”
          Betari hanya diam.
          “Kamu sudah memilik jurusanmu. IPS pula. Mama nggak memaksa kamu untuk memilih juru-san IPA karena Mama mengetahui kemampuanmu. Mbok, ya, kamu bertanggung jawab. Belajar dengan sungguh. Sejak kapan seseorang yang akan menghadapi tes masuk universitas negeri belajar dengan terlentang, tiduran di kamar tamu, dan ber-twitter ria sambil membalas SMS di HP-nya? Benar-benar kamu!”
          Betari hanya diam. Tetapi, air matanya meluncur. Kenapa, sih, mesti Mama singgung lagi? Betari berlari ke kamar. Hanya bisa menangis. Sebenarnya, Betari tidak bisa menerima “kekalahannya”. Sejak tidur semalam, ia memang tampak nyenyak. Tapi? Dalamnya laut bisa diselami, tetapi dalam nya hati siapa yang bisa menyelami.       
          “Sekarang Mama mau tanya. Menyesalkah kamu akan tindakanmu itu? Karena berbeda artinya jika peribahasa bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian dibalik menjadi bersenang-senang dahulu bersakit-sakit kemudian. Dan inilah yang terjadi. Kamu harus merasakan sakitnya ketidaklulusan itu!”
          “Tari… menyesal, Ma,” Betari menyesal. Mengapa tiga hari sebelum ujian dia malah menonton Man of Steel bersama teman-temannya? 
          “Berarti kamu belum bisa menghadapi dan mengenyahkan godaan setan. Ajakan teman-temanmu itu godaan setan, tahu!”
          “Maafkan Tari, Ma! Maafkan Tari!”
          “Sudah. Yang sudah, ya sudah. Tak usah kamu sesali. Yang jelas, kamu buktikan bahwa anggapan orang bahwa kuliah di PTS sama hebatnya dengan kuliah di PTN. Karena… Mama berpendapat percuma berkuliah tinggi di PTN kenamaan kalau otakmu tak sampai. Tiga setengah sampai paling lambat empat tahun. Agar kalau ada berkat kamu bisa mengambil S2 di PTN. Yang penting, derajat keluarga kita terangkat. Betapa susah mengangkat derajat keluarga!”
          “Ya, Ma. Tari mengerti!”


*

          “Gimana, Tar? Jebol nggak?” tanya Serafina, teman seperjuangannya. Mereka berada di Mokko Factory, tempat donat-donat manis dan lezat berada dan minuman-minuman yang superenak bertengger. Mereka duduk di sebuah kursi. Berhadapan. Betari hanya terbengong-bengong. Harus bagaimana menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Di depannya, banyak orang yang lalu-lalang. Jelas, karena mereka berada di mal.
          “Kagak, Fin. Enak, ya, lo. Jebol meski jurusannya FKIP.”
          “Ah, ini bukan jurusan yang gue seneng juga kok. Gue mau Sastra, bukan FKIP.” kata Serafina yang akhirnya mesti menghadapi kenyataan kalau dia mendapatkan pilihannya yang ketiga. Pilihannya sama seperti apa yang diinginkan Betari. Sastra. Dan FKIP di universitas tempatnya tinggal ini adalah sebagai syarat agar dia mendapatkan tempat agar bisa tes di sini. “Lagipula, ngapain gue sekolah bertahun-tahun di sekolah yang sama dari TK sampai SMA ini kalau gue… jebol hanya di PTN setempat?”
          “Tapi lo bakal ambil, kan?” tanya Betari.
          “Ya iyalah. Bokap, kok, yang nuntut. Dia nggak punya biaya kalau terpaksanya gue kuliah di PTS.” Kafe itu memiliki WiFi, jadi Serafina mengambil ponsel android-nya dan mengaktifkan untuk bermain internet. Membuka twitter-nya.
          “Fin, Tuhan bener-bener nggak adil, ya, sama gue! Lo dikasih yang bagus, tapi… gue enggak. Belajar gue bukan belajarnya orang gila yang kepengen banget masuk ITB atau UI. Bahkan, UGM sekalipun.”
          “Ya itulah, ada rupa, ada harga. Ada harga yang harus lo bayar biar bisa masuk universitas prestisius kayak begitu. Bahkan, Unila sekalipun. Kalau lo mau masuk UI tapi belajarnya ogah-ogahan kayak siput, ya gimana Tuhan mau ngasih? Tapi lo nggak semestinya ngomong kalau Tuhan nggak adil. Jangan pernah menuntut.”
          “Tapi gue udah berdoa. Cowok gue, Attala, lulus di UI. Berharap biar gue bisa nyusul dia dan kuliah bareng… eh, kenapa harus beda universitas, sih?”
          “Ya nggak tahu, ya. Kan kalian sama-sama di Jakarta. Ya… masih bisa ketemu, lah seenggaknya, Tar.”
          “Doain aja Attala gak mutusin gue hanya gara-gara gak jebol di PTN.”
          Serafina tertawa. “Konyol banget kalau Attala benar-benar ngelakuin kayak begituan.” Betari hanya tersenyum simpul. Tapi kuluman senyumnya berubah seketika menjadi kuluman bibir yang melengkung ke bawah karena dia melihat Attala melingkari lengannya di perut Chandra. Ditemani Niko, Haris, dan Reska.
          Betari menampari dua sisi pipinya. Berharap kalau bukan itu yang ada dalam pandangannya ini. “Nggak beneran, kan, Fin?”
          “Ya iyalah nggak…” Serafina mengibaskan tangannya. “Sampai si Tala berani ngelakuin kayak begitu… liat aja. Gue bogem habis-habisan.”
          “M…mung…mungkin… lo boleh bogem dia sekarang…”
          “Maksud lo apaan, Tar?” Serafina tersenyum heran.
          “Lo boleh balik kepala sekarang!”
          Dan Serafina sudah mengepalkan tinjunya ketika melihat Attala berpelukan dengan Chandra.

*

          Dengan lemas Betari melangkahkan kakinya di rumahnya, sampai Senia, adiknya sendiri, heran melihatnya. Dari meja makan, ia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dan melihat kakaknya terhuyung pingsan di dinding. Tepat di depan meja ruang tamu.
          “Lha ngapa sore-sore melorot kayak ular keket?” tanyanya. Biasa, nyablak. Khas adiknya. Dia membopong kakaknya menuju kursi sofanya. Betari hanya bisa terengah-engah. Senia menuju dapur dan mengambilkan segelas air untuk kakaknya. Kakaknya yang menggunakan t-shirt biru muda dan jins biru gelap dan tas rotan dengan pulasan make up yang alami itu tampak benar-benar seperti kertas yang baru di-gremet-gremet. Ia menepuk pundak kakaknya. “Nih minum dulu. Udah lega baru lo cerita.”
          Betari menenggak airnya perlahan. Lalu menghela napasnya. Berat sekali. “Itu hanya mimpi aja, kan, yang gue lihat tadi siang?”
          “Liat apaan lo, Kak?” tanya Senia. Ia menatap kakaknya heran. “Liat dedemit?”
          “Gak. Lebih dari dedemit.” Matanya berkunang-kunang tiba-tiba. Ia melihat adiknya seakan-akan seperti melihat tujuh belas jin yang bersarang di sofa ruang tamunya. Haduh, kakak gue keliyengan , nih!  Bawa masuk kamar dulu, deh! pikir Senia.
          “Kak, mending lo gue bawa ke kamar dulu, deh. Ada yang nggak beres, nih, sama lo,” kata Senia.
          “Ya udah, deh.” jawab Betari pasrah. Senia lalu perlahan membawa Betari menuju kamarnya. Dibaringkannya kakaknya di kamar dan ditariknya selimut setelah AC di kamarnya dihidupkan. Kamar Betari benar-benar rapi. Beda dengan kamar Senia, 180 derajat malah. Buku-buku di raknya mulai dari novel sampai pelajaran lurus-lurus berdiri. Debu tak pernah hinggap sedikitpun di meja belajarnya. Kardus-kardus tempat menyimpan buku-buku bekasnya ditatanya rapi bertumpuk di sudut ruangan. Cat kamar berwarna putih menambah tenangnya suasana kamar itu. Benar-benar seperti berada di kamar seorang putri.
          “Gue telepon Mama dulu, ya!” cepat-cepat Senia mengambil ponsel di kamarnya. Namun, langkahnya seketika terhenti oleh teriakan Betari.
          “Jangan!” teriaknya sekuat tenaga. “Nanti malah jadi beban pikirannya Mama!”
          “Seenggaknya biar pas pulang Mama bawa obat. Kalau nggak, Mbak Lilik yang bakal mijat elo.”
          “Ngapain dipijat?”
          “Pijat bakal bikin lo merasa lebih baik.”
          Dengan sekuat tenaganya pula Betari bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar adiknya. Walaupun terkadang adiknya benar-benar bandel, tetapi dia memiliki rasa kasih sayang terhadap kakaknya. “Makasih, ya, Nia.” Dipeluknya adiknya. “Tapi minum obat aja udah cukup buat gue.”

*

          “Kenapa kamu keliyengan begini, sih, Nak? Mama jadi khawatir sama kamu!” seru Mama khawatir ketika mengantarkan makanan menuju kamar anak sulungnya itu. “Kamu makan dulu, ya. Nih, Mama beliin mi ifu goreng dari restorannya Bu Mei samping tokonya  Tante Sinta.”    
          “Ma… Betari nggak habis pikir. Apa ini teguran Tuhan buat Tari atas semua kelalaian yang udah Tari lakukan?” lirih Betari. “Tapi Tuhan benar-benar jahat sama Tari. Tari udah baca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu dan memanjatkan doa biar Tari lulus. Tari udah ngelakuin semuanya. Belajar, dan Tari mengerti apa salah Tari sampai Tari ngelihat kenyataan kalau Tari harus masuk PTS dan Tari benar-benar nggak nyangka kalau pacar Tari sebejat itu. Karena nggak satu tempat kuliah Tari diputusin dengan cara yang nggak etis dan di mal dia tadi meluk Chandra, Ma. Chandra Dewintasari! Tari benar-benar nggak habis pikir!”
          “Cukup, Betari!” tegas sang Mama. Tak tahan telinganya mendengar rutukan anaknya itu. “Nggak pantas kamu berburuk sangka sama Yang Di Atas!”
          “Tapi pasti Tuhan jahat sama Betari, Ma! Tuhan benar-benar nggak sayang sama Betari!” kini Tari mulai terisak dan tangisnya makin menjadi. “Tuhan jahat sama Betari, Ma! INI NGGAK ADIL!”
          Mama tertegun melihat Betari yang mulai mengisak. Anak gadisnya ini mulai berubah menjadi seorang perempuan kecil ketika menangis terisak seperti ini. Dibelainya kepala anaknya dan dikecupnya lembut saat ia sudah berada dalam pelukannya.
          “Tari, dengar cerita Mama. Ada seorang anak kecil yang ingin meminta seekor kura-kura kepada Tuhan. Ia memohon-mohon kepada Tuhan ketika menunggu. Ketika ia mendapatkan jawaban darinya, dia malah mendapatkan seekor kepompong. Dituntutnya Tuhan karena ia meminta kura-kura, bukan kepompong. Tanpa sadar saat ia tidur, ia melihat si kepompong berme-tamorfosis menjadi seekor kupu-kupu dengan sayap yang indah. Kamu tahu kan artinya?”
          Isakan Betari perlahan mulai berhenti dan ia berkata, “Rencana-Nya beda dengan rencana kita, kan?”
          “Nah, itu kamu sudah mengerti. Sekarang, hapus air matamu. Minta ampun kepada Tuhan dan selesaikan semua masalahmu. Uangnya tadi sudah ditransfer, kan?”
          “Baik. Sudah, Ma.”

*

          Di Solaria, dia bertemu Attala. Bedanya, kini dia datang sendiri. Serafina berbisik kepada Betari, “Udah, lo samperin tuh si jahanam penguasa neraka!”
          “Beres!”
          “Asal, lo pake kepala dingin, ya. Jangan lo nyalain tuh sumbu kompor.”
          Sengaja di Solaria mereka memilih tempat duduk paling ujung. Di sudut. Betari mulai melangkah duduk di hadapan Attala. Dia tampak cantik dengan kardigan merah dengan dalaman kaus hitam dan legging abu-abu yang benar-benar serasi dengan flatshoes pinknya. Sementara pacarnya, Attala Wibisono, yang bermata bulat, berkulit bersih, berambut ikal, berhidung mancung, dan memberikan wajah yang berkarisma ketika tersenyum itu menatap Betari terkejut.
          “T…Ta…Tari? Ng…ngapain kamu di sini?”
          “Buang keringat. Ya, nggaklah, gue mau makan sama Fina di pojokan,” Betari berkata dengan sedikit ketus.
          “Oh,” tanggap Attala. Matanya mulai berkaca-kaca.
          “Ada hubungan apa kamu sama Chandra? Kamu kan tahu kalau kamu masih sama aku. Apa karena kabar kalau aku nggak lulus itu makanya kamu selingkuh sama Chandra? Dia, kan, sama-sama di UI.”
          “Kamu… kamu nggak lulus?” kaca yang berada dalam matanya retak sudah dan berganti menjadi belalakan. “How come?
          Kata-kata itu membuat Betari juga sama terkejutnya. Attala baru tahu kalau Betari nggak lulus? Benar-benar sulit dipercaya. “Kamu baru tahu a… aku nggak lulus?”
          “Ya. Dan gue baru tahu.” kata Attala serius. “Masalah Chandra, Chandra udah diputusin sama si Reska. Si Chandra sengaja ngerenggut tangan aku biar ngelingkerin pinggangnya dan dia meluk aku duluan. Dan Reska terkejut melihatnya. Itu pas si Reska lagi cari-cari batik buat bokapnya, dia curi-curi kesempatan. Dari dulu dia nggak ikhlas kalau rupanya dia jadian sama si Reska.”
          Benar-benar di luar kesadaran. Betari membatin. “Terus…”
          “Tenang,” Attala meremas tangan Betari lembut. “Hubungan kita nggak bakalan berakhir hanya gara-gara alasan konyol begini. Kamu, kan, masih bisa coba lagi tahun depan.” Diraihnya tangan Betari dan dikecupnya. Cepat-cepat Attala melepas tangan Betari ketika mengetahui Serafina sudah berada di dekatnya.
          “Nggak jadi ngebogem si Attala, nih, Tar?” tanyanya menggoda.
          “Nggak!” kata Betari. “Justru gue udah kebogem sama kesetiaannya Attala. Udah cukup gue dibogem sama Tuhan gara-gara nggak lulus. Pasti Tuhan ngasih yang lebih indah. Dan ini salah satunya.”
          “Makanya,” kata Serafina. “Jangan menuntut Tuhan!”
          Mereka tertawa.

Bandarlampung, 11 Agustus 2013 | 20:10 WIB
          

Rabu, 14 Agustus 2013

Putih

Biarin saja banyak orang yang bilang kalau misalnya semasa SMA tidak pernah mengecap bagaimana rasanya cinta, bakal susah jodoh. Apalagi kalau papa-mama bilang cepat-cepat kawin, ya… Mama mau menimang cucu! Hus, anak SMA pikirannya udah kawin. Dalilku? Ya itu. Pengalamannya si Mira yang mergok pacarnya ciuman. Sesama. Ular sanca dengan ular sanca. Kulitnya putih pula. Berarti, mitos yang membuktikan bahwa semua cowok kulit putih adalah gay itu benar adanya.
Alasan mengapa aku mengatakan dalilku demikian adalah karena cowok berkulit putih itu kesannya babyface. Dan badannya biasanya sih jauh dari kekar. Kalau untuk ukuran macho, Sylvester Stallone adalah seorang kulit putih (mengarah ke sawo matang juga, sih) yang menurutku… emmmhhh…!
          Suatu hari, sepulang sekolah. Aku sengaja memutuskan untuk pulang sendiri. Mengusir kesendirianku, kupasang headset di telinga. Persetan dengan kata orang itu bisa merusak gendang telinga. Orang aku hanya menggunakannya untuk mengusir kebosanan. Kalau keseringan dipakai, bukan hanya gendang telingaku yang hancur, tapi juga aku akan terlihat seperti orang-orang Labuhan Maringgai. Angkot dapat. Aku bertemu temanku, Pita, ketika aku telah duduk. Persis di depannya. Ia menanyakan sesuatu kepadaku. Tentu saja urusan jodoh. 
          “Res, lo… udah punya pacar belum?” tanyanya hati-hati, agar tidak menyakiti perasaanku.
          “Belum. Kenapa? Mau cariin gue channel?”
          “Nggak, sih.”
          “Gue kira lo mau nyariin.” kataku. Lalu aku membuka jendela, ingin menghirup udara Bandarlampung di kala siang. Penuh asap, penuh sesak. Berisik. Tapi aku suka. Pita menepuk-nepuk pahaku tiba-tiba.
“Susah dicariin! Bukannya selera elo yang hitam-hitam manis gitu, ya?”
          Gila, tahu juga orang ini! kataku dalam hati. Namun, hatiku mulai panas ketika mendengarnya berkata, “Nggak mau nyoba yang putih? Selera TKW banget, sih, lo!” candanya. Lalu ia cekikikan geli sambil menutup mulut. Hhh. Dikiranya aku mau dengan orang-orang yang faunanya berada dalam kumpulan garis Weber?
          “Asem lo,” kataku tersenyum kecut.
          “Lagipula, lo pemilih banget, sih! Mau hitam, mau putih, kan sama. Yang penting dia kan setia dan pengertian. Dan harus jantan. Nggak hombre kayak mantannya si Mira.”
          “Lo boleh ngeledek gue asal jangan menghina teman gue!” aku mulai menyolot ketika dia menyinggung-nyinggung Mira. Enak saja dia menasihatiku dengan mengejek sahabatku sendiri!
          “Ups… sori. Sori, Resti. Gue kelepasan!” katanya tulus, lalu ia memukul-mukul bibirnya sendiri. “Maafin gue, ya.” Lalu ia tersenyum. “Gue cuma mau ngasih pengertian sama lo. Nyari cowok tuh jangan terlalu pemilih. Nanti malah nggak dapet-dapet, lho! Nyari cowok hanya berdasarkan kulit, bisa-bisa baru nenek-nenek lo kawinnya.”
          “Persetan! Mau gue kawin pas nenek-nenek, kek, atau gue baru nangis habis dilahirin nyokap gue langsung dikawinin itu bukan urusan lo!”
          “Hmm… oke! Oke! Gue nggak mau ikut-ikutan!” Ia tersenyum lalu membuka BB-nya untuk melihat-lihat siapa tahu ada pesan baik di WhatsApp, Line, maupun KakaoTalk-nya. Aku tersenyum kecut. Sarannya hanya mengepul-ngepul di benak. Masuk kiri keluar kiri. Kenapa nggak keluar kanan? Kalau keluar kanan, kan, setidaknya masih ada yang menempel dan mengendap di telinga yang penuh dengan lunaknya kotoran.

*

          Ini adalah pertama kalinya aku keluar selama Ramadan. Menikmati malam sambil melihat banyak jamaah masjid keluar setelah selesai menunaikan Salat Tarawih membuatku terkagum-kagum sendiri. Enak juga, ya, menikmati malam Ramadan walaupun hanya disuruh untuk membeli dua buah santan Sun Kara.
          Selesai membayar di kasir, aku pulang. Baru kali ini aku dikagetkan dengan anak kecil yang bermain petasan. Dasar, pengganggu kenyamanan orang. Aku marah sejadi-jadinya. Menjewer telinga mereka satu per satu. Tiba-tiba, tatapanku membentur seorang cowok. Tinggi. Wajahnya chubby. Bermata almond. Berhidung mancung. Berkacamata. Sayangnya dia PUTIH.
          “Dik, jangan main petasan di sini,” kata cowok itu tegas. “Nanti kalau tangan kalian hancur gara-gara petasan, nggak punya tangan, nggak bisa nulis, bagaimana? Nggak bisa sekolah deh!” katanya lalu menunduk sejajar anak-anak itu. Lembut. Penuh pengertian. Layaknya seorang kakak terhadap adiknya.  Anak-anak itu mengerti. Lalu mereka pergi dan pindah bermain ke tempat lain.
          Cowok itu lalu berbalik arah menatapku. Tatapannya lembut. Dilepaskannya kacamatanya sejenak karena matanya yang lelah. “Kamu nggak apa-apa, kan?” tanya cowok itu.
          “Nggak apa-apa, kok,” kataku. Kusembunyikan senyumku. “Terima kasih, ya, udah bikin aku dan belanjaanku nggak jatuh ke mana-mana.”
          “Sama-sama. Lain kali, jangan menegur anak-anak dengan cara seperti itu. Boleh ada ketegasan, tetapi jangan sampai tanganmu ikut andil dalam peneguran itu.”
          “He-em.” Aku menganggukkan kepalaku, lalu memasang senyum kecut. Hhh, aku sudah terbiasa memarahi Citrani dengan cara seperti itu. Dan dia diam-diam saja. Kalau sudah keterlaluan, tanganku yang mulus ini bisa membuat pipinya merah dalam sekejap. Persis Kak Ros. Dan cowok itu pergi meninggalkanku. Aku menarik napas. Lega bercampur bingung. Aneh, aku merasa grogi berdekatan dengannya.  Pulang membeli Sun Kara aku langsung merebahkan diriku di tempat tidurku. Kenyamanannya yang ekstra membuatku terbuai. Aku memang sudah pengangguran beberapa bulan sejak aku tidak lulus SBMPTN. Makanya aku memutuskan untuk berkuliah di sebuah universitas swasta terkemuka. Yang penting janjinya nggak gombal!
          Telah aku coba untuk merebahkan diriku di tempat tidur, tetapi aku nggak bisa sama sekali. Memejamkan mata itu susah rupanya. Padahal kalau materi ujian SBMPTN hanya bagaimana memejamkan mata, UI pun bisa kutembus! Ternyata penyebabnya hanya satu. COWOK ITU! Oke. Mungkin ini hanya karena aku kepikiran bagaimana baiknya cowok itu. Kenapa harus dia? Semoga bukan pertanda aneh!

*

          Setengah tujuh. Waktu yang normal untukku agar bisa berjumpa dengan indahnya pagi. Namun, pagi-pagi Mama sudah membebankan pekerjaan rumah buatku sementara dia mengantar adikku, Citrani.
          “Mama mau ngantar si Citrani dulu ke sekolah, ya. Pokoknya, sampai rumah, Mama tahunya cucian di mesin cuci sudah beres… res… res! Oke…” suruh Mamaku. Lalu ia memundurkan mobilnya dan melaju pergi. Aku menutup pagarku dan menarik napas berat. Nasib pengangguran! Setengah jalan ketika pagar tertutup aku melihat seseorang. Kayaknya, orang ini pernah kulihat, deh! Dia sedang berkaus abu-abu, bercelana Yonex hitam dan ber-Fila putih. Ups, dia menoleh!
          “Hei… kamu cewek yang kemarin kaget gara-gara petasan banting itu, kan?”
          Sial. Kenapa diingatkannya aku dengan peristiwa semalam? Benarlah yang kubatin. Cowok itu!
          “Kalau ya, emang kenapa?” tanyaku sedikit ketus. Pagar kini kututup. Kuambil sapu yang berada tepat di samping tanaman suplir. Sengaja di ujung agak kubanting, biar dia kaget!
          “Lho, kok ditutup, sih?” tanyanya heran.
          “Nanti kalau ada orang yang ngira kita pacaran, pagi-pagi, bulan puasa pula. Tahu sendiri Tante Merry.”
          “Oh, direktur PIN di perumahan ini?”
          “PIN?”
          “Pusat Informasi Nasional. Ya gosip, ya harga sembako.”
          Aku merasa geli, tapi kututupi itu dengan ekspresi sekecut mungkin. Aku mengetusinya, “Nanti didengar gimana? Aku nggak mau ikut-ikutan, ya. Dan singkatan yang lo bikin itu sama sekali nggak bikin perut gue geli!”
          “Oh, ya. Dari tadi kita ngobrol tapi kita belum tahu nama kita masing-masing.” Kuiyakan saja ajakannya. Dia, kan, mengajakku kenalan. Sah saja, kan? Nggak lebih! Tak kenal maka tak… TIIIITTT!
          “Resti.”
          “Yudhistira Dirgantoro. Panggil aja Yudhi.”
          Nama yang benar-benar elegan, kataku dalam hati. “Sekolah di mana?”
          “Unila. FISIP. Ilmu Komunikasi.”
          “Oh.” Kataku. Benar-benar datar. “Udah, ah… gue bukan ngusir, ya. Tapi aku benar-benar banyak kerjaan. Nyapu, mencuci, dan ngepel! Jadi, daripada waktuku habis, aku lebih baik ngerjain sekarang. Kalau Kakak ngerti, lebih baik sekarang Kakak get out.”
          “Oke, deh, kalau begitu. Aku bakal get out sesuai dengan apa yang kamu minta.”
          Oh, pantas dia tampak dewasa saat menegur anak-anak yang bermain petasan banting semalam. Ternyata, dia benar-benar dewasa. Hhh. Tolong, Resti! Tolong! Berpeganglah pada prinsip. Tapi bagaimana mau bisa dilupakan? Orang dari atas sampai bawah jantan semua walaupun wajahnya benar-benar bersih? Jadi seperti melihat salah satu VJ favoritku di TV. Rizky Kinos. Resti, kamu masih punya cara, kan, buat nggak tenggelam dalam pesonanya dia?

*

          Seminggu-dua, aku sudah mengenalnya. Sebulan-dua, dia mulai menceritakan semua sesuatunya kepadaku. Termasuk rahasianya. Aku mulai menaruh respek kepadanya. Kasihan sekali dia ditikam sahabatnya dari belakang. Amit-amit aku merebut pacar sahabatku sendiri. Dan aku yah… hanya sekadar mendengar. Jangan berpikir negatif dulu.  Memberikan solusi pun hanya sekadar solusi yang aku tahu. Serius! Karena aku belum pernah berpacaran dan aku hanya menonton bagaimana seseorang mengatasi permasalahan cintanya dalam film-film pendek tentang cinta di televisi dan membaca novel-novel saja.
Hari ini, dia mengajakku berjalan-jalan keliling Chandra. Sekalian beli roti buat sarapannya di BreadTalk. Dia tinggal di kos-kosannya Tante Nuri. Kasihan anak kos. Terpaksa kuiyakan saja ajakannya. Daripada bosan di rumah. Toh, di rumah juga ada Tante Indri dan Citrani yang sedang belajar membuat sarang ketupat untuk ujian keterampilan. Mama-Papaku sedang ke acara adat pernikahan Tulang Imron Sihite di Gedung Bina Budaya, gedung resepsi yang dimiliki sebuah gereja di Kedaton. Banyakorang yang menyewa gedung tersebut untuk resepsi dan acara adat. Terutama, orang-orang bersuku Batak.
          Sampai di Chandra, naluri wanitaku keluar ketika melihat baju dan segala macam pernak perniknya. Biarin aja. Kubuat kakinya varises gara-gara bosan menunggu. Siapa suruh mau jalan sama aku? Weeek! Namun, aneh. Dia tetap sabar dalam menemaniku. Bahkan merekomendasi baju-baju yang cocok untukku. Ha! Kena! Dia pasti sering menonton Fashion TV, kan? Berarti dia nggak ada jantan-jantannya!
          “Udah sore, nih. Nanti dicariin Mamamu, lho!” kata Yudhi. Aku sedang senang-senangnya melihat sepatu di sana. Yongki Komaladi dan Triset cukup menarik mataku. “Jangan lapar mata.” Yudhi mengingatkanku lagi.
          “Nanti, ah! Tapi, kenapa Kakak mau bantuin aku buat cari-cari sepatu dan lain-lain? Dan selera Kakak sepertinya bagus juga!”
          “Memang salah, ya, kalau cowok ngerekomendasiin baju buat orang yang dia suka biar kelihatan lebih cantik?”
          Orang yang dia suka? Biar lebih cantik? Oke, Res! Tahan napasmu!
          “Nggak beli makanan buat oleh-oleh?” cetusnya kemudian.
          “Boleh juga, tuh!”
          “Oke!” Kami berjalan menuju Mr. Celups dan membeli beberapa makanan. Stick, sosis, dan makanan-makanan yang enak. Tak lupa dengan dabu-dabu.  Dari Mr. Celups kami berjalan menuju KFC untuk membeli dua gelas Mocha Float. Dari sana, Yudhi menancapkan gas motornya dan… pulang, deh. Kami meminum Mocha Float yang telah kami pesan. Ah, alangkah nikmatnya. Rasanya begitu creamy. Tak terasa, Beat merah milik Yudhi pun sampai di rumah kami.
          “Makasih, ya, Kak, udah nganterin aku sampai rumah.”
          “Sama-sama.”
           “Duileeee… dianterin siapa, tuh?” teriak Citrani yang sedang belajar membuat ketupat bersama Tante Indri.
          “Temen, Cit. Temen.” kataku sedikit meninggi.
          “Ya, deh… ya.” Lalu kulangkahkan kakiku ke rumah. Melepas sepatu dan melepas baju. Menggantinya dengan baju yang… sedikit lebih pas untuk dikenakan di rumah. Baju bergambar Marie, tokoh kartun ciptaan Disney – Aristocats, lumayan juga. Pink pula. Dengan celana hitam mini tentunya. 

*

          “Hei!” Kebetulan sekali Yudhi berada di depan sekolah. Aku hendak mengambil ijazahku. “Mau kuanterin pulang? Mumpung lewat!”
          “Ng… boleh.”
          Aku naik Beat merah miliknya. Dan, alhasil aku diteriaki teman-temanku. “Ceilaaaah! Ngomongnya cowok putih itu nggak jantan. Tahunya kelepek-kelepek sendiri!” Kalau tanganku sedikit lebih panjang, akan kubogem mereka satu per satu. Mentah-mentah. Dan, masih fresh from the oven.
          “Apa salahnya, sih, punya Kakak walaupun agak tuaan sedikit?” kataku ketus pada Mia, orang yang meledekku tadi.
          “Ya maaf, Res.”
          Motor itu mulai melaju. Kupakai helmku. Saat melaju, Yudhi menegur sikapku tadi. “Apa salahnya bercanda, sih, Res?”
          “Aku kan belum mau punya pacar dulu. Lagipula aku punya kriteria sendiri, kok, dalam nentuin pacar aku. Nggak mesti perfect yang penting setia. Dan cokelat. Karena cokelat itu kesannya lebih jantan gitu.” Agak ngilu hatiku ketika kata-kata itu meluncur. Tapi, ya terpaksa. Untuk menutupi jeritan hati.
          “Emang harus cokelat dan jantan ya?”
          “Umm… ya!”
          “Emangnya kalau putih, nggak jantan, gitu?”
          “Nggak. Aku takut, sekarang banyak cowok putih, bersih, tapi tahunya… dia gay!”
          “Oh. Perlu kutunjukin?”
          Aduh… dia mulai agak tersinggung, nih, agaknya. Dan aku mulai mencium adanya bau-bau keanehan. Dan… dia mengungkapkan perasaannya saat itu juga!
          “Kakak jatuh cinta sama kamu semenjak aku pulang lari pagi beberapa bulan yang lalu. Dari cara kamu ngomong, pembawaan kamu, kedewasaan kamu ketika Kakak sharing semua masalah Kakak. Tapi ternyata… di zaman seperti ini masih ada ya cewek rasis dan salah persepsi.”
          Apa? Dia… dia naksir aku? Ternyata benar! Res, jangan biarkan bentengmu digempur habis-habisan. “Bukan begitu maksudku, Kak… aku… aku…”
          Aku terdiam. Diparkirkannya mobilnya di KFC Rajabasa. Tepat di belakang. Paling pojok pula. Dia memegang wajahku mantap, mengelus pipiku. Tanpa sadar, aku tenggelam dalam lumatan bibirnya! Lembut dan menguasai. Benar-benar ciuman seorang ahli. “Puas? Udah tahu sekarang aku normal apa nggak?” katanya terengah-engah.
          Tapi… buat ngasih tahu Kakak normal apa nggak, haruskah dengan bibir bertemu bibir? Jeritku dalam hati. Tak sadar titik-titik air mata muncul di pipiku. Aku menangis. Aku merasa bersalah. Bersalah sekali karena aku terlalu rasis dalam menentukan pasangan. Perlahan dihapusnya air mataku. Aku benar-benar merasa malu hati karena telah membencinya. Apa salah Yudhi yang telah memberikan segebung perhatiannya padaku?
          “Maafin aku, Kak,” kataku lirih. Dia membelai rambutku lembut. Menenangkanku dari tangis yang timbul karena perasaan bersalah.
          “Kulit boleh beda, Res. Tapi, kalau untuk masalah gay, nggak semua cowok putih itu gay!”
          “Masalahnya…” kataku sesenggukan. “Temanku pernah ngalamin, Kak!”
          “Itu, sih, dia! Beda sama Kakak. Kakak masih bisa terangsang, kok, kalau melihat cewek yang begitu cantik. Kakak normal!”
          “Udah cukup! CUKUP!” kataku. “Jangan sampai terjadi hal yang nggak-nggak di mobil ini!” kataku. Kini tangisku berhenti.
          “Dengan nyatain perasaan Kakak, Kakak udah ngebuktiin ke aku kalau Kakak itu benar-benar cowok sejati. Aku… aku sebenarnya… juga ngerasain hal yang sama dengan Kakak.” Saat aku menyatakannya, bola mata Yudhi pun berbinar. Ada secercah kebahagiaan di sana karena aku merasakan hal yang sama dengannya. Dia pun mengecup keningku. Lembut. Hangat.
          “Baiklah, kalau begitu. Kenapa nggak kita rayain dengan makan di sini. Udah kadung parkir, kan?”
          Why not?
          Dan aku tersadar. Putih, juga jantan, kok!

Bandarlampung, 00.06 WIB