Kamis, 19 Desember 2013

LET IT FLOW

Rabu, 18 Desember 2013

Bermula di suatu pagi pada pukul 09.00, tiba-tiba tidur nyenyakku harus diganggu dengan suara ketukan. Namun, aku tidak jadi ngambek karena orang yang mengetuk pintu kamar kosku adalah seorang yang kukenal dan kuanggap sebagai abang sendiri. Yup, Abang Tian. Aku membuka pintuku dan dia berkata, "Chris, mau ikut pergi ke Jogja, nggak?"

Deg! Jogja! Kota yang selama ini aku impikan untuk mengunjunginya kala akhir pekan. Serius, Salatiga adalah (maaf) sebuah kota mati. Kalau mau malam mingguan, kalau tidak jalan-jalan ke sekitar Selasar Kartini ya... diam duduk manis di kos-kosan dan pacaran dengan laptop. Tapi... aku tiba-tiba ingat akan keberangkatanku menuju Lampung pada 21 Desember nanti. Jemuran belum kering dan rencananya harus kuselesaikan secara jantan. Apalagi kalau bukan menyeterikanya secara paksa?

"Aduh, Bang, maaf, gue nggak bisa pergi ke Jogja, nih. Ada banyak kerjaan. Jemuran belum diangkat. Kamar belum diberesin," jawabku sambil menunjuk-nunjuk semua hal yang kujadikan alasan tersebut.

"Dua puluh satu, kan, masih lama. Ngapain lo buru-buru? Daripada suntuk di kos..."

"Ya sudahlah."

Ya. Kuiyakan saja ajakannya. Aku pun menunggu hingga pukul 12.00. Selama aku menunggu, hanya hujan, Indra, dan Adrian saja yang menjadi temanku. Sambil diiringi lagu-lagu yang kuputar dari laptop: Akan Datang (Amy Mastura) dan Bicara Manis Mengiris Kalbu (Siti Nurhaliza) disusul dengan playlist lagu-lagu Melayu, baik yang dinyanyikan Siti Nurhaliza maupun Noraniza Idris. Selama proses menunggu berlangsung, aku mandi, setelah mandi sebisa mungkin aku membereskan kamarku. Dan... yang ditunggu-tunggu pun datang.

Rupa-rupanya, si Abang pergi dengan gadis yang dulu sempat membuatnya jatuh hati di gereja. Novita. Dari curahan hatinya beberapa hari yang lalu bersama Aris dan Indra (kebetulan teman-teman sefakultas Indra datang dan meramaikan kos-kosan) dia jatuh cinta dengan gadis itu dan... ia bertekad menjaganya. Serasa berlian mahal. Hah, begitulah cowok. Dan... aku tak bisa menyangka!

Selama perjalanan menuju Jogjakarta dan aku diminta Abang untuk duduk di samping sopir (dasar nasib jomblo), aku heran melihat mereka. Kakak-adik bukan... Pacar juga bukan... karena aku tahu si Abang sudah punya pacar nun jauh di Jayapura sana. Mereka begitu mesra. Panggilan sudah Papa-Mama. Awalnya aku bingung apa mereka telah meresmikan hubungannya atau... (lupakan!). Ternyata, kebiasaan Novita yang berasal dari Manado itulah penyebabnya. Kata Novita, di Manado biasa mereka bilang "Mama lagi buat apa, mi?" Nah... kalau 'mi' yang di belakang itu sudah beda cerita. 'Mi' adalah logat Palu.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Museum Dirgantara. Di sana, kami melihat begitu banyak pesawat yang digunakan Indonesia pada saat mempertahankan kemerdekaannya. Lebih mengejutkannya lagi, termasuk rudalnya diabadikan pula di sana! Kami pun berfoto. Ya Abang, ya aku, ya Novita. 

Inilah Permasalahannya!

Ketika berada di Museum Dirgantara, aku diminta untuk berpegangan tangan. Kata Novita, kami bertiga layaknya geng anak-anak SMA yang sehidup-semati, justru... ketika aku berpegangan tangan halusinasiku benar-benar lain! Dalam halusinasiku, tampak aku bersama seseorang yang selama ini aku 'gandrungi' baik secara fisik maupun perilaku (aku malas untuk menyebutkan namanya) sedang berpegangan tangan. Berdua saja. Dan sepanjang jalan dari Museum Dirgantara ke Malioboro... aku merasa seperti seorang wanita!

Oh, Tuhan! Berkali-kali aku mencoba melupakannya tetapi justru tetap dia saja yang muncul. Bagaimana ini? Berusaha bersikap biasa sajakah atau...

Aih!

Justru, di sinilah aku diuji. Terlepas kau mau mengatakan aku tetap tidak bisa melupakannya, aku justru berbicara masalah melupakan. Melupakan adalah proses kehidupan. Ya, aku tahu itu. Entah kita melupakan karena hal buruk yang pernah kita alami, melupakan seseorang yang pernah menyakiti hati, atau sebab lainnya.

Tetap, melupakan adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan. Justru, ketika kau mencoba untuk masuk dalam kesibukan, proses melupakan yang kau lakukan hasilnya hanya bersifat sementara, tidak permanen. Aku justru menyetujui apa yang dikatakan Mishelle padaku. Rahasia melupakan hanya ada pada tiga kata. Let it flow. Biarkan proses melupakan mengalir dengan sendirinya dengan bersikap biasa. Tidak melengos, tidak buang muka. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar