Rabu, 14 Agustus 2013

Putih

Biarin saja banyak orang yang bilang kalau misalnya semasa SMA tidak pernah mengecap bagaimana rasanya cinta, bakal susah jodoh. Apalagi kalau papa-mama bilang cepat-cepat kawin, ya… Mama mau menimang cucu! Hus, anak SMA pikirannya udah kawin. Dalilku? Ya itu. Pengalamannya si Mira yang mergok pacarnya ciuman. Sesama. Ular sanca dengan ular sanca. Kulitnya putih pula. Berarti, mitos yang membuktikan bahwa semua cowok kulit putih adalah gay itu benar adanya.
Alasan mengapa aku mengatakan dalilku demikian adalah karena cowok berkulit putih itu kesannya babyface. Dan badannya biasanya sih jauh dari kekar. Kalau untuk ukuran macho, Sylvester Stallone adalah seorang kulit putih (mengarah ke sawo matang juga, sih) yang menurutku… emmmhhh…!
          Suatu hari, sepulang sekolah. Aku sengaja memutuskan untuk pulang sendiri. Mengusir kesendirianku, kupasang headset di telinga. Persetan dengan kata orang itu bisa merusak gendang telinga. Orang aku hanya menggunakannya untuk mengusir kebosanan. Kalau keseringan dipakai, bukan hanya gendang telingaku yang hancur, tapi juga aku akan terlihat seperti orang-orang Labuhan Maringgai. Angkot dapat. Aku bertemu temanku, Pita, ketika aku telah duduk. Persis di depannya. Ia menanyakan sesuatu kepadaku. Tentu saja urusan jodoh. 
          “Res, lo… udah punya pacar belum?” tanyanya hati-hati, agar tidak menyakiti perasaanku.
          “Belum. Kenapa? Mau cariin gue channel?”
          “Nggak, sih.”
          “Gue kira lo mau nyariin.” kataku. Lalu aku membuka jendela, ingin menghirup udara Bandarlampung di kala siang. Penuh asap, penuh sesak. Berisik. Tapi aku suka. Pita menepuk-nepuk pahaku tiba-tiba.
“Susah dicariin! Bukannya selera elo yang hitam-hitam manis gitu, ya?”
          Gila, tahu juga orang ini! kataku dalam hati. Namun, hatiku mulai panas ketika mendengarnya berkata, “Nggak mau nyoba yang putih? Selera TKW banget, sih, lo!” candanya. Lalu ia cekikikan geli sambil menutup mulut. Hhh. Dikiranya aku mau dengan orang-orang yang faunanya berada dalam kumpulan garis Weber?
          “Asem lo,” kataku tersenyum kecut.
          “Lagipula, lo pemilih banget, sih! Mau hitam, mau putih, kan sama. Yang penting dia kan setia dan pengertian. Dan harus jantan. Nggak hombre kayak mantannya si Mira.”
          “Lo boleh ngeledek gue asal jangan menghina teman gue!” aku mulai menyolot ketika dia menyinggung-nyinggung Mira. Enak saja dia menasihatiku dengan mengejek sahabatku sendiri!
          “Ups… sori. Sori, Resti. Gue kelepasan!” katanya tulus, lalu ia memukul-mukul bibirnya sendiri. “Maafin gue, ya.” Lalu ia tersenyum. “Gue cuma mau ngasih pengertian sama lo. Nyari cowok tuh jangan terlalu pemilih. Nanti malah nggak dapet-dapet, lho! Nyari cowok hanya berdasarkan kulit, bisa-bisa baru nenek-nenek lo kawinnya.”
          “Persetan! Mau gue kawin pas nenek-nenek, kek, atau gue baru nangis habis dilahirin nyokap gue langsung dikawinin itu bukan urusan lo!”
          “Hmm… oke! Oke! Gue nggak mau ikut-ikutan!” Ia tersenyum lalu membuka BB-nya untuk melihat-lihat siapa tahu ada pesan baik di WhatsApp, Line, maupun KakaoTalk-nya. Aku tersenyum kecut. Sarannya hanya mengepul-ngepul di benak. Masuk kiri keluar kiri. Kenapa nggak keluar kanan? Kalau keluar kanan, kan, setidaknya masih ada yang menempel dan mengendap di telinga yang penuh dengan lunaknya kotoran.

*

          Ini adalah pertama kalinya aku keluar selama Ramadan. Menikmati malam sambil melihat banyak jamaah masjid keluar setelah selesai menunaikan Salat Tarawih membuatku terkagum-kagum sendiri. Enak juga, ya, menikmati malam Ramadan walaupun hanya disuruh untuk membeli dua buah santan Sun Kara.
          Selesai membayar di kasir, aku pulang. Baru kali ini aku dikagetkan dengan anak kecil yang bermain petasan. Dasar, pengganggu kenyamanan orang. Aku marah sejadi-jadinya. Menjewer telinga mereka satu per satu. Tiba-tiba, tatapanku membentur seorang cowok. Tinggi. Wajahnya chubby. Bermata almond. Berhidung mancung. Berkacamata. Sayangnya dia PUTIH.
          “Dik, jangan main petasan di sini,” kata cowok itu tegas. “Nanti kalau tangan kalian hancur gara-gara petasan, nggak punya tangan, nggak bisa nulis, bagaimana? Nggak bisa sekolah deh!” katanya lalu menunduk sejajar anak-anak itu. Lembut. Penuh pengertian. Layaknya seorang kakak terhadap adiknya.  Anak-anak itu mengerti. Lalu mereka pergi dan pindah bermain ke tempat lain.
          Cowok itu lalu berbalik arah menatapku. Tatapannya lembut. Dilepaskannya kacamatanya sejenak karena matanya yang lelah. “Kamu nggak apa-apa, kan?” tanya cowok itu.
          “Nggak apa-apa, kok,” kataku. Kusembunyikan senyumku. “Terima kasih, ya, udah bikin aku dan belanjaanku nggak jatuh ke mana-mana.”
          “Sama-sama. Lain kali, jangan menegur anak-anak dengan cara seperti itu. Boleh ada ketegasan, tetapi jangan sampai tanganmu ikut andil dalam peneguran itu.”
          “He-em.” Aku menganggukkan kepalaku, lalu memasang senyum kecut. Hhh, aku sudah terbiasa memarahi Citrani dengan cara seperti itu. Dan dia diam-diam saja. Kalau sudah keterlaluan, tanganku yang mulus ini bisa membuat pipinya merah dalam sekejap. Persis Kak Ros. Dan cowok itu pergi meninggalkanku. Aku menarik napas. Lega bercampur bingung. Aneh, aku merasa grogi berdekatan dengannya.  Pulang membeli Sun Kara aku langsung merebahkan diriku di tempat tidurku. Kenyamanannya yang ekstra membuatku terbuai. Aku memang sudah pengangguran beberapa bulan sejak aku tidak lulus SBMPTN. Makanya aku memutuskan untuk berkuliah di sebuah universitas swasta terkemuka. Yang penting janjinya nggak gombal!
          Telah aku coba untuk merebahkan diriku di tempat tidur, tetapi aku nggak bisa sama sekali. Memejamkan mata itu susah rupanya. Padahal kalau materi ujian SBMPTN hanya bagaimana memejamkan mata, UI pun bisa kutembus! Ternyata penyebabnya hanya satu. COWOK ITU! Oke. Mungkin ini hanya karena aku kepikiran bagaimana baiknya cowok itu. Kenapa harus dia? Semoga bukan pertanda aneh!

*

          Setengah tujuh. Waktu yang normal untukku agar bisa berjumpa dengan indahnya pagi. Namun, pagi-pagi Mama sudah membebankan pekerjaan rumah buatku sementara dia mengantar adikku, Citrani.
          “Mama mau ngantar si Citrani dulu ke sekolah, ya. Pokoknya, sampai rumah, Mama tahunya cucian di mesin cuci sudah beres… res… res! Oke…” suruh Mamaku. Lalu ia memundurkan mobilnya dan melaju pergi. Aku menutup pagarku dan menarik napas berat. Nasib pengangguran! Setengah jalan ketika pagar tertutup aku melihat seseorang. Kayaknya, orang ini pernah kulihat, deh! Dia sedang berkaus abu-abu, bercelana Yonex hitam dan ber-Fila putih. Ups, dia menoleh!
          “Hei… kamu cewek yang kemarin kaget gara-gara petasan banting itu, kan?”
          Sial. Kenapa diingatkannya aku dengan peristiwa semalam? Benarlah yang kubatin. Cowok itu!
          “Kalau ya, emang kenapa?” tanyaku sedikit ketus. Pagar kini kututup. Kuambil sapu yang berada tepat di samping tanaman suplir. Sengaja di ujung agak kubanting, biar dia kaget!
          “Lho, kok ditutup, sih?” tanyanya heran.
          “Nanti kalau ada orang yang ngira kita pacaran, pagi-pagi, bulan puasa pula. Tahu sendiri Tante Merry.”
          “Oh, direktur PIN di perumahan ini?”
          “PIN?”
          “Pusat Informasi Nasional. Ya gosip, ya harga sembako.”
          Aku merasa geli, tapi kututupi itu dengan ekspresi sekecut mungkin. Aku mengetusinya, “Nanti didengar gimana? Aku nggak mau ikut-ikutan, ya. Dan singkatan yang lo bikin itu sama sekali nggak bikin perut gue geli!”
          “Oh, ya. Dari tadi kita ngobrol tapi kita belum tahu nama kita masing-masing.” Kuiyakan saja ajakannya. Dia, kan, mengajakku kenalan. Sah saja, kan? Nggak lebih! Tak kenal maka tak… TIIIITTT!
          “Resti.”
          “Yudhistira Dirgantoro. Panggil aja Yudhi.”
          Nama yang benar-benar elegan, kataku dalam hati. “Sekolah di mana?”
          “Unila. FISIP. Ilmu Komunikasi.”
          “Oh.” Kataku. Benar-benar datar. “Udah, ah… gue bukan ngusir, ya. Tapi aku benar-benar banyak kerjaan. Nyapu, mencuci, dan ngepel! Jadi, daripada waktuku habis, aku lebih baik ngerjain sekarang. Kalau Kakak ngerti, lebih baik sekarang Kakak get out.”
          “Oke, deh, kalau begitu. Aku bakal get out sesuai dengan apa yang kamu minta.”
          Oh, pantas dia tampak dewasa saat menegur anak-anak yang bermain petasan banting semalam. Ternyata, dia benar-benar dewasa. Hhh. Tolong, Resti! Tolong! Berpeganglah pada prinsip. Tapi bagaimana mau bisa dilupakan? Orang dari atas sampai bawah jantan semua walaupun wajahnya benar-benar bersih? Jadi seperti melihat salah satu VJ favoritku di TV. Rizky Kinos. Resti, kamu masih punya cara, kan, buat nggak tenggelam dalam pesonanya dia?

*

          Seminggu-dua, aku sudah mengenalnya. Sebulan-dua, dia mulai menceritakan semua sesuatunya kepadaku. Termasuk rahasianya. Aku mulai menaruh respek kepadanya. Kasihan sekali dia ditikam sahabatnya dari belakang. Amit-amit aku merebut pacar sahabatku sendiri. Dan aku yah… hanya sekadar mendengar. Jangan berpikir negatif dulu.  Memberikan solusi pun hanya sekadar solusi yang aku tahu. Serius! Karena aku belum pernah berpacaran dan aku hanya menonton bagaimana seseorang mengatasi permasalahan cintanya dalam film-film pendek tentang cinta di televisi dan membaca novel-novel saja.
Hari ini, dia mengajakku berjalan-jalan keliling Chandra. Sekalian beli roti buat sarapannya di BreadTalk. Dia tinggal di kos-kosannya Tante Nuri. Kasihan anak kos. Terpaksa kuiyakan saja ajakannya. Daripada bosan di rumah. Toh, di rumah juga ada Tante Indri dan Citrani yang sedang belajar membuat sarang ketupat untuk ujian keterampilan. Mama-Papaku sedang ke acara adat pernikahan Tulang Imron Sihite di Gedung Bina Budaya, gedung resepsi yang dimiliki sebuah gereja di Kedaton. Banyakorang yang menyewa gedung tersebut untuk resepsi dan acara adat. Terutama, orang-orang bersuku Batak.
          Sampai di Chandra, naluri wanitaku keluar ketika melihat baju dan segala macam pernak perniknya. Biarin aja. Kubuat kakinya varises gara-gara bosan menunggu. Siapa suruh mau jalan sama aku? Weeek! Namun, aneh. Dia tetap sabar dalam menemaniku. Bahkan merekomendasi baju-baju yang cocok untukku. Ha! Kena! Dia pasti sering menonton Fashion TV, kan? Berarti dia nggak ada jantan-jantannya!
          “Udah sore, nih. Nanti dicariin Mamamu, lho!” kata Yudhi. Aku sedang senang-senangnya melihat sepatu di sana. Yongki Komaladi dan Triset cukup menarik mataku. “Jangan lapar mata.” Yudhi mengingatkanku lagi.
          “Nanti, ah! Tapi, kenapa Kakak mau bantuin aku buat cari-cari sepatu dan lain-lain? Dan selera Kakak sepertinya bagus juga!”
          “Memang salah, ya, kalau cowok ngerekomendasiin baju buat orang yang dia suka biar kelihatan lebih cantik?”
          Orang yang dia suka? Biar lebih cantik? Oke, Res! Tahan napasmu!
          “Nggak beli makanan buat oleh-oleh?” cetusnya kemudian.
          “Boleh juga, tuh!”
          “Oke!” Kami berjalan menuju Mr. Celups dan membeli beberapa makanan. Stick, sosis, dan makanan-makanan yang enak. Tak lupa dengan dabu-dabu.  Dari Mr. Celups kami berjalan menuju KFC untuk membeli dua gelas Mocha Float. Dari sana, Yudhi menancapkan gas motornya dan… pulang, deh. Kami meminum Mocha Float yang telah kami pesan. Ah, alangkah nikmatnya. Rasanya begitu creamy. Tak terasa, Beat merah milik Yudhi pun sampai di rumah kami.
          “Makasih, ya, Kak, udah nganterin aku sampai rumah.”
          “Sama-sama.”
           “Duileeee… dianterin siapa, tuh?” teriak Citrani yang sedang belajar membuat ketupat bersama Tante Indri.
          “Temen, Cit. Temen.” kataku sedikit meninggi.
          “Ya, deh… ya.” Lalu kulangkahkan kakiku ke rumah. Melepas sepatu dan melepas baju. Menggantinya dengan baju yang… sedikit lebih pas untuk dikenakan di rumah. Baju bergambar Marie, tokoh kartun ciptaan Disney – Aristocats, lumayan juga. Pink pula. Dengan celana hitam mini tentunya. 

*

          “Hei!” Kebetulan sekali Yudhi berada di depan sekolah. Aku hendak mengambil ijazahku. “Mau kuanterin pulang? Mumpung lewat!”
          “Ng… boleh.”
          Aku naik Beat merah miliknya. Dan, alhasil aku diteriaki teman-temanku. “Ceilaaaah! Ngomongnya cowok putih itu nggak jantan. Tahunya kelepek-kelepek sendiri!” Kalau tanganku sedikit lebih panjang, akan kubogem mereka satu per satu. Mentah-mentah. Dan, masih fresh from the oven.
          “Apa salahnya, sih, punya Kakak walaupun agak tuaan sedikit?” kataku ketus pada Mia, orang yang meledekku tadi.
          “Ya maaf, Res.”
          Motor itu mulai melaju. Kupakai helmku. Saat melaju, Yudhi menegur sikapku tadi. “Apa salahnya bercanda, sih, Res?”
          “Aku kan belum mau punya pacar dulu. Lagipula aku punya kriteria sendiri, kok, dalam nentuin pacar aku. Nggak mesti perfect yang penting setia. Dan cokelat. Karena cokelat itu kesannya lebih jantan gitu.” Agak ngilu hatiku ketika kata-kata itu meluncur. Tapi, ya terpaksa. Untuk menutupi jeritan hati.
          “Emang harus cokelat dan jantan ya?”
          “Umm… ya!”
          “Emangnya kalau putih, nggak jantan, gitu?”
          “Nggak. Aku takut, sekarang banyak cowok putih, bersih, tapi tahunya… dia gay!”
          “Oh. Perlu kutunjukin?”
          Aduh… dia mulai agak tersinggung, nih, agaknya. Dan aku mulai mencium adanya bau-bau keanehan. Dan… dia mengungkapkan perasaannya saat itu juga!
          “Kakak jatuh cinta sama kamu semenjak aku pulang lari pagi beberapa bulan yang lalu. Dari cara kamu ngomong, pembawaan kamu, kedewasaan kamu ketika Kakak sharing semua masalah Kakak. Tapi ternyata… di zaman seperti ini masih ada ya cewek rasis dan salah persepsi.”
          Apa? Dia… dia naksir aku? Ternyata benar! Res, jangan biarkan bentengmu digempur habis-habisan. “Bukan begitu maksudku, Kak… aku… aku…”
          Aku terdiam. Diparkirkannya mobilnya di KFC Rajabasa. Tepat di belakang. Paling pojok pula. Dia memegang wajahku mantap, mengelus pipiku. Tanpa sadar, aku tenggelam dalam lumatan bibirnya! Lembut dan menguasai. Benar-benar ciuman seorang ahli. “Puas? Udah tahu sekarang aku normal apa nggak?” katanya terengah-engah.
          Tapi… buat ngasih tahu Kakak normal apa nggak, haruskah dengan bibir bertemu bibir? Jeritku dalam hati. Tak sadar titik-titik air mata muncul di pipiku. Aku menangis. Aku merasa bersalah. Bersalah sekali karena aku terlalu rasis dalam menentukan pasangan. Perlahan dihapusnya air mataku. Aku benar-benar merasa malu hati karena telah membencinya. Apa salah Yudhi yang telah memberikan segebung perhatiannya padaku?
          “Maafin aku, Kak,” kataku lirih. Dia membelai rambutku lembut. Menenangkanku dari tangis yang timbul karena perasaan bersalah.
          “Kulit boleh beda, Res. Tapi, kalau untuk masalah gay, nggak semua cowok putih itu gay!”
          “Masalahnya…” kataku sesenggukan. “Temanku pernah ngalamin, Kak!”
          “Itu, sih, dia! Beda sama Kakak. Kakak masih bisa terangsang, kok, kalau melihat cewek yang begitu cantik. Kakak normal!”
          “Udah cukup! CUKUP!” kataku. “Jangan sampai terjadi hal yang nggak-nggak di mobil ini!” kataku. Kini tangisku berhenti.
          “Dengan nyatain perasaan Kakak, Kakak udah ngebuktiin ke aku kalau Kakak itu benar-benar cowok sejati. Aku… aku sebenarnya… juga ngerasain hal yang sama dengan Kakak.” Saat aku menyatakannya, bola mata Yudhi pun berbinar. Ada secercah kebahagiaan di sana karena aku merasakan hal yang sama dengannya. Dia pun mengecup keningku. Lembut. Hangat.
          “Baiklah, kalau begitu. Kenapa nggak kita rayain dengan makan di sini. Udah kadung parkir, kan?”
          Why not?
          Dan aku tersadar. Putih, juga jantan, kok!

Bandarlampung, 00.06 WIB


Tidak ada komentar:

Posting Komentar