Biarin
saja banyak orang yang bilang kalau misalnya semasa SMA tidak pernah mengecap
bagaimana rasanya cinta, bakal susah jodoh. Apalagi kalau papa-mama bilang
cepat-cepat kawin, ya… Mama mau menimang cucu! Hus, anak SMA pikirannya udah
kawin. Dalilku? Ya itu. Pengalamannya si Mira yang mergok pacarnya ciuman.
Sesama. Ular sanca dengan ular sanca. Kulitnya putih pula. Berarti, mitos yang
membuktikan bahwa semua cowok kulit putih
adalah gay itu benar adanya.
Alasan
mengapa aku mengatakan dalilku demikian adalah karena cowok berkulit putih itu
kesannya babyface. Dan badannya
biasanya sih jauh dari kekar. Kalau untuk ukuran macho, Sylvester Stallone
adalah seorang kulit putih (mengarah ke sawo matang juga, sih) yang menurutku…
emmmhhh…!
Suatu hari, sepulang sekolah. Aku sengaja memutuskan untuk
pulang sendiri. Mengusir kesendirianku, kupasang headset di telinga. Persetan dengan kata orang itu bisa merusak
gendang telinga. Orang aku hanya menggunakannya untuk mengusir kebosanan. Kalau
keseringan dipakai, bukan hanya gendang telingaku yang hancur, tapi juga aku
akan terlihat seperti orang-orang Labuhan Maringgai. Angkot dapat. Aku bertemu temanku,
Pita, ketika aku telah duduk. Persis di depannya. Ia menanyakan sesuatu
kepadaku. Tentu saja urusan jodoh.
“Res, lo… udah punya pacar belum?” tanyanya hati-hati, agar
tidak menyakiti perasaanku.
“Belum. Kenapa? Mau cariin gue channel?”
“Nggak, sih.”
“Gue kira lo mau nyariin.” kataku. Lalu aku membuka
jendela, ingin menghirup udara Bandarlampung di kala siang. Penuh asap, penuh
sesak. Berisik. Tapi aku suka. Pita menepuk-nepuk pahaku tiba-tiba.
“Susah
dicariin! Bukannya selera elo yang hitam-hitam manis gitu, ya?”
Gila, tahu juga orang
ini! kataku dalam hati. Namun, hatiku mulai panas ketika mendengarnya
berkata, “Nggak mau nyoba yang putih? Selera TKW banget, sih, lo!” candanya.
Lalu ia cekikikan geli sambil menutup mulut. Hhh. Dikiranya aku mau dengan
orang-orang yang faunanya berada dalam kumpulan garis Weber?
“Asem lo,” kataku tersenyum kecut.
“Lagipula, lo pemilih banget, sih! Mau hitam, mau putih,
kan sama. Yang penting dia kan setia dan pengertian. Dan harus jantan. Nggak hombre
kayak mantannya si Mira.”
“Lo boleh ngeledek gue asal jangan menghina teman gue!” aku
mulai menyolot ketika dia menyinggung-nyinggung Mira. Enak saja dia
menasihatiku dengan mengejek sahabatku sendiri!
“Ups… sori. Sori, Resti. Gue kelepasan!” katanya tulus,
lalu ia memukul-mukul bibirnya sendiri. “Maafin gue, ya.” Lalu ia tersenyum.
“Gue cuma mau ngasih pengertian sama lo. Nyari cowok tuh jangan terlalu
pemilih. Nanti malah nggak dapet-dapet, lho! Nyari cowok hanya berdasarkan
kulit, bisa-bisa baru nenek-nenek lo kawinnya.”
“Persetan! Mau gue kawin pas nenek-nenek, kek, atau gue
baru nangis habis dilahirin nyokap gue langsung dikawinin itu bukan urusan lo!”
“Hmm… oke! Oke! Gue nggak mau ikut-ikutan!” Ia tersenyum
lalu membuka BB-nya untuk melihat-lihat siapa tahu ada pesan baik di WhatsApp, Line, maupun KakaoTalk-nya. Aku tersenyum kecut.
Sarannya hanya mengepul-ngepul di benak. Masuk kiri keluar kiri. Kenapa nggak
keluar kanan? Kalau keluar kanan, kan, setidaknya masih ada yang menempel dan
mengendap di telinga yang penuh dengan lunaknya kotoran.
*
Ini adalah pertama kalinya aku keluar selama Ramadan.
Menikmati malam sambil melihat banyak jamaah masjid keluar setelah selesai
menunaikan Salat Tarawih membuatku terkagum-kagum sendiri. Enak juga, ya,
menikmati malam Ramadan walaupun hanya disuruh untuk membeli dua buah santan
Sun Kara.
Selesai membayar di kasir, aku pulang. Baru kali ini aku
dikagetkan dengan anak kecil yang bermain petasan. Dasar, pengganggu kenyamanan
orang. Aku marah sejadi-jadinya. Menjewer telinga mereka satu per satu.
Tiba-tiba, tatapanku membentur seorang cowok. Tinggi. Wajahnya chubby. Bermata almond. Berhidung mancung. Berkacamata. Sayangnya dia PUTIH.
“Dik, jangan main petasan di sini,” kata cowok itu tegas.
“Nanti kalau tangan kalian hancur gara-gara petasan, nggak punya tangan, nggak
bisa nulis, bagaimana? Nggak bisa sekolah deh!” katanya lalu menunduk sejajar
anak-anak itu. Lembut. Penuh pengertian. Layaknya seorang kakak terhadap
adiknya. Anak-anak itu mengerti. Lalu
mereka pergi dan pindah bermain ke tempat lain.
Cowok itu lalu berbalik arah menatapku. Tatapannya lembut. Dilepaskannya
kacamatanya sejenak karena matanya yang lelah. “Kamu nggak apa-apa, kan?” tanya
cowok itu.
“Nggak apa-apa, kok,” kataku. Kusembunyikan senyumku.
“Terima kasih, ya, udah bikin aku dan belanjaanku nggak jatuh ke mana-mana.”
“Sama-sama. Lain kali, jangan menegur anak-anak dengan cara
seperti itu. Boleh ada ketegasan, tetapi jangan sampai tanganmu ikut andil
dalam peneguran itu.”
“He-em.” Aku menganggukkan kepalaku, lalu memasang senyum
kecut. Hhh, aku sudah terbiasa memarahi Citrani dengan cara seperti itu. Dan
dia diam-diam saja. Kalau sudah keterlaluan, tanganku yang mulus ini bisa
membuat pipinya merah dalam sekejap. Persis Kak Ros. Dan cowok itu pergi
meninggalkanku. Aku menarik napas. Lega bercampur bingung. Aneh, aku merasa
grogi berdekatan dengannya. Pulang
membeli Sun Kara aku langsung merebahkan diriku di tempat tidurku.
Kenyamanannya yang ekstra membuatku terbuai. Aku memang sudah pengangguran
beberapa bulan sejak aku tidak lulus SBMPTN. Makanya aku memutuskan untuk
berkuliah di sebuah universitas swasta terkemuka. Yang penting janjinya nggak
gombal!
Telah aku coba untuk merebahkan diriku di tempat tidur,
tetapi aku nggak bisa sama sekali. Memejamkan mata itu susah rupanya. Padahal
kalau materi ujian SBMPTN hanya bagaimana memejamkan mata, UI pun bisa
kutembus! Ternyata penyebabnya hanya satu. COWOK ITU! Oke. Mungkin ini hanya
karena aku kepikiran bagaimana baiknya cowok itu. Kenapa harus dia? Semoga bukan pertanda aneh!
*
Setengah tujuh. Waktu yang normal untukku agar bisa
berjumpa dengan indahnya pagi. Namun, pagi-pagi Mama sudah membebankan
pekerjaan rumah buatku sementara dia mengantar adikku, Citrani.
“Mama mau ngantar si Citrani dulu ke sekolah, ya. Pokoknya,
sampai rumah, Mama tahunya cucian di mesin cuci sudah beres… res… res! Oke…”
suruh Mamaku. Lalu ia memundurkan mobilnya dan melaju pergi. Aku menutup
pagarku dan menarik napas berat. Nasib pengangguran! Setengah jalan ketika
pagar tertutup aku melihat seseorang. Kayaknya, orang ini pernah kulihat, deh!
Dia sedang berkaus abu-abu, bercelana Yonex hitam dan ber-Fila putih. Ups, dia
menoleh!
“Hei… kamu cewek yang kemarin kaget gara-gara petasan
banting itu, kan?”
Sial. Kenapa diingatkannya aku dengan peristiwa semalam?
Benarlah yang kubatin. Cowok itu!
“Kalau ya, emang kenapa?” tanyaku sedikit ketus. Pagar kini
kututup. Kuambil sapu yang berada tepat di samping tanaman suplir. Sengaja di
ujung agak kubanting, biar dia kaget!
“Lho, kok ditutup, sih?” tanyanya heran.
“Nanti kalau ada orang yang ngira kita pacaran, pagi-pagi,
bulan puasa pula. Tahu sendiri Tante Merry.”
“Oh, direktur PIN di perumahan ini?”
“PIN?”
“Pusat Informasi Nasional. Ya gosip, ya harga sembako.”
Aku merasa geli, tapi kututupi itu dengan ekspresi sekecut
mungkin. Aku mengetusinya, “Nanti didengar gimana? Aku nggak mau ikut-ikutan,
ya. Dan singkatan yang lo bikin itu sama sekali nggak bikin perut gue geli!”
“Oh, ya. Dari tadi kita ngobrol tapi kita belum tahu nama
kita masing-masing.” Kuiyakan saja ajakannya. Dia, kan, mengajakku kenalan. Sah
saja, kan? Nggak lebih! Tak kenal maka tak… TIIIITTT!
“Resti.”
“Yudhistira Dirgantoro. Panggil aja Yudhi.”
Nama yang benar-benar elegan, kataku dalam hati. “Sekolah
di mana?”
“Unila. FISIP. Ilmu Komunikasi.”
“Oh.” Kataku. Benar-benar datar. “Udah, ah… gue bukan
ngusir, ya. Tapi aku benar-benar banyak kerjaan. Nyapu, mencuci, dan ngepel!
Jadi, daripada waktuku habis, aku lebih baik ngerjain sekarang. Kalau Kakak
ngerti, lebih baik sekarang Kakak get out.”
“Oke, deh, kalau begitu. Aku bakal get out sesuai dengan apa yang kamu minta.”
Oh, pantas dia tampak dewasa saat menegur anak-anak yang
bermain petasan banting semalam. Ternyata, dia benar-benar dewasa. Hhh. Tolong,
Resti! Tolong! Berpeganglah pada prinsip. Tapi bagaimana mau bisa dilupakan?
Orang dari atas sampai bawah jantan semua walaupun wajahnya benar-benar bersih?
Jadi seperti melihat salah satu VJ favoritku di TV. Rizky Kinos. Resti, kamu
masih punya cara, kan, buat nggak tenggelam dalam pesonanya dia?
*
Seminggu-dua, aku sudah mengenalnya. Sebulan-dua, dia mulai
menceritakan semua sesuatunya kepadaku. Termasuk rahasianya. Aku mulai menaruh
respek kepadanya. Kasihan sekali dia ditikam sahabatnya dari belakang.
Amit-amit aku merebut pacar sahabatku sendiri. Dan aku yah… hanya sekadar
mendengar. Jangan berpikir negatif dulu. Memberikan solusi pun hanya sekadar solusi
yang aku tahu. Serius! Karena aku belum pernah berpacaran dan aku hanya
menonton bagaimana seseorang mengatasi permasalahan cintanya dalam film-film
pendek tentang cinta di televisi dan membaca novel-novel saja.
Hari
ini, dia mengajakku berjalan-jalan keliling Chandra. Sekalian beli roti buat
sarapannya di BreadTalk. Dia tinggal di kos-kosannya Tante Nuri. Kasihan anak
kos. Terpaksa kuiyakan saja ajakannya. Daripada bosan di rumah. Toh, di rumah
juga ada Tante Indri dan Citrani yang sedang belajar membuat sarang ketupat
untuk ujian keterampilan. Mama-Papaku sedang ke acara adat pernikahan Tulang
Imron Sihite di Gedung Bina Budaya, gedung resepsi yang dimiliki sebuah gereja
di Kedaton. Banyakorang yang menyewa gedung tersebut untuk resepsi dan acara
adat. Terutama, orang-orang bersuku Batak.
Sampai di Chandra, naluri wanitaku keluar ketika melihat
baju dan segala macam pernak perniknya. Biarin aja. Kubuat kakinya varises
gara-gara bosan menunggu. Siapa suruh mau jalan sama aku? Weeek! Namun, aneh.
Dia tetap sabar dalam menemaniku. Bahkan merekomendasi baju-baju yang cocok
untukku. Ha! Kena! Dia pasti sering menonton Fashion TV, kan? Berarti dia nggak
ada jantan-jantannya!
“Udah sore, nih. Nanti dicariin Mamamu, lho!” kata Yudhi.
Aku sedang senang-senangnya melihat sepatu di sana. Yongki Komaladi dan Triset
cukup menarik mataku. “Jangan lapar mata.” Yudhi mengingatkanku lagi.
“Nanti, ah! Tapi, kenapa Kakak mau bantuin aku buat cari-cari
sepatu dan lain-lain? Dan selera Kakak sepertinya bagus juga!”
“Memang salah, ya, kalau cowok ngerekomendasiin baju buat
orang yang dia suka biar kelihatan lebih cantik?”
Orang yang dia suka?
Biar lebih cantik? Oke, Res! Tahan napasmu!
“Nggak beli makanan buat oleh-oleh?” cetusnya kemudian.
“Boleh juga, tuh!”
“Oke!” Kami berjalan menuju Mr. Celups dan membeli beberapa
makanan. Stick, sosis, dan makanan-makanan yang enak. Tak lupa dengan
dabu-dabu. Dari Mr. Celups kami berjalan
menuju KFC untuk membeli dua gelas Mocha Float. Dari sana, Yudhi menancapkan
gas motornya dan… pulang, deh. Kami meminum Mocha Float yang telah kami pesan.
Ah, alangkah nikmatnya. Rasanya begitu creamy.
Tak terasa, Beat merah milik Yudhi pun sampai di rumah kami.
“Makasih, ya, Kak, udah nganterin aku sampai rumah.”
“Sama-sama.”
“Duileeee… dianterin
siapa, tuh?” teriak Citrani yang sedang belajar membuat ketupat bersama Tante
Indri.
“Temen, Cit. Temen.” kataku sedikit meninggi.
“Ya, deh… ya.” Lalu kulangkahkan kakiku ke rumah. Melepas
sepatu dan melepas baju. Menggantinya dengan baju yang… sedikit lebih pas untuk
dikenakan di rumah. Baju bergambar Marie, tokoh kartun ciptaan Disney – Aristocats, lumayan juga. Pink pula.
Dengan celana hitam mini tentunya.
*
“Hei!” Kebetulan sekali Yudhi berada di depan sekolah. Aku
hendak mengambil ijazahku. “Mau kuanterin pulang? Mumpung lewat!”
“Ng… boleh.”
Aku naik Beat merah miliknya. Dan, alhasil aku diteriaki
teman-temanku. “Ceilaaaah! Ngomongnya cowok putih itu nggak jantan. Tahunya
kelepek-kelepek sendiri!” Kalau tanganku sedikit lebih panjang, akan kubogem
mereka satu per satu. Mentah-mentah. Dan, masih fresh from the oven.
“Apa salahnya, sih, punya Kakak walaupun agak tuaan
sedikit?” kataku ketus pada Mia, orang yang meledekku tadi.
“Ya maaf, Res.”
Motor itu mulai melaju. Kupakai helmku. Saat melaju, Yudhi
menegur sikapku tadi. “Apa salahnya bercanda, sih, Res?”
“Aku kan belum mau punya pacar dulu. Lagipula aku punya
kriteria sendiri, kok, dalam nentuin pacar aku. Nggak mesti perfect yang penting setia. Dan cokelat.
Karena cokelat itu kesannya lebih jantan gitu.” Agak ngilu hatiku ketika kata-kata
itu meluncur. Tapi, ya terpaksa. Untuk menutupi jeritan hati.
“Emang harus cokelat dan jantan ya?”
“Umm… ya!”
“Emangnya kalau putih, nggak jantan, gitu?”
“Nggak. Aku takut, sekarang banyak cowok putih, bersih,
tapi tahunya… dia gay!”
“Oh. Perlu kutunjukin?”
Aduh… dia mulai agak tersinggung, nih, agaknya. Dan aku
mulai mencium adanya bau-bau keanehan. Dan… dia mengungkapkan perasaannya saat
itu juga!
“Kakak jatuh cinta sama kamu semenjak aku pulang lari pagi
beberapa bulan yang lalu. Dari cara kamu ngomong, pembawaan kamu, kedewasaan
kamu ketika Kakak sharing semua
masalah Kakak. Tapi ternyata… di zaman seperti ini masih ada ya cewek rasis dan
salah persepsi.”
Apa? Dia… dia naksir aku? Ternyata benar! Res, jangan
biarkan bentengmu digempur habis-habisan. “Bukan begitu maksudku, Kak… aku…
aku…”
Aku terdiam. Diparkirkannya mobilnya di KFC Rajabasa. Tepat
di belakang. Paling pojok pula. Dia memegang wajahku mantap, mengelus pipiku. Tanpa
sadar, aku tenggelam dalam lumatan bibirnya! Lembut dan menguasai. Benar-benar
ciuman seorang ahli. “Puas? Udah tahu sekarang aku normal apa nggak?” katanya
terengah-engah.
Tapi… buat ngasih
tahu Kakak normal apa nggak, haruskah dengan bibir bertemu bibir? Jeritku
dalam hati. Tak sadar titik-titik air mata muncul di pipiku. Aku menangis. Aku
merasa bersalah. Bersalah sekali karena aku terlalu rasis dalam menentukan
pasangan. Perlahan dihapusnya air mataku. Aku benar-benar merasa malu hati
karena telah membencinya. Apa salah Yudhi yang telah memberikan segebung perhatiannya
padaku?
“Maafin aku, Kak,” kataku lirih. Dia membelai rambutku
lembut. Menenangkanku dari tangis yang timbul karena perasaan bersalah.
“Kulit boleh beda, Res. Tapi, kalau untuk masalah gay,
nggak semua cowok putih itu gay!”
“Masalahnya…” kataku sesenggukan. “Temanku pernah ngalamin,
Kak!”
“Itu, sih, dia! Beda sama Kakak. Kakak masih bisa
terangsang, kok, kalau melihat cewek yang begitu cantik. Kakak normal!”
“Udah cukup! CUKUP!” kataku. “Jangan sampai terjadi hal
yang nggak-nggak di mobil ini!” kataku. Kini tangisku berhenti.
“Dengan nyatain perasaan Kakak, Kakak udah ngebuktiin ke
aku kalau Kakak itu benar-benar cowok sejati. Aku… aku sebenarnya… juga
ngerasain hal yang sama dengan Kakak.” Saat aku menyatakannya, bola mata Yudhi
pun berbinar. Ada secercah kebahagiaan di sana karena aku merasakan hal yang
sama dengannya. Dia pun mengecup keningku. Lembut. Hangat.
“Baiklah, kalau begitu. Kenapa nggak kita rayain dengan
makan di sini. Udah kadung parkir, kan?”
“Why not?”
Dan aku tersadar. Putih, juga jantan, kok!
Bandarlampung,
00.06 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar