Minggu, 18 Agustus 2013

Jangan Menuntut!


Laptop terbuka, modem bekerja. Dengan sempurna. Warnanya biru muda pula, tanda bahwa kecepatannya melesat. Sebenarnya, Betari tak mampu menahan getaran yang berdegup kencang di dadanya itu. Kini masa depannya sedang dipertaruhkan. PTN atau PTS? Ah, biar jawaban-Nya yang datang.
          Diketikkannya nomor peserta itu perlahan, agar tidak keliru. Kata Mamanya, untuk urusan seperti ini, silap sedikit… bisa-bisa kacau! Tanggal lahir pun sudah diketikkannya. Enam belas Mei seribu sembilan ratus sembilan puluh lima. Kursor kini bergerak menuju tombol “Lihat Hasil”. Dan, jawaban-Nya atas doa yang dipanjatkannya selama ini adalah…

Maaf, Anda tidak lulus SBMPTN 2013.

          Diketikkannya lagi nomor peserta dan tanggal lahirnya. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Berharap agar bukan kalimat itu yang dipandanginya. Dan, tetap. Kalimat itu yang hadir dalam pandangannya. Ibunya benar-benar tak percaya. Namun, kekecewaannya yang mendalam itu disimpan. Disembunyi-kannya dari hadapan anaknya.
          “Ma, maaf… Tari nggak lulus,” katanya lirih. “Tari sudah berusaha semaksimal yang Tari bisa.” Setitik air mata mulai menetes di matanya. Di pipinya yang benar-benar bersih itu. Ibunya hanya mengelus-elus rambutnya. Jika dilihat pola belajarnya selama ini dan hasil-hasil try out di bimbingan belajar tempat ia mempersiapkan seluruh perlengkapan perang yang akan digunakannya. Apakah dia menembakkan panah itu ke arah yang salah? Atau jangan-jangan dia kehabisan peluru dan misil-misilnya? Hanya Betari Dianrini yang tahu.
          Mama menelepon Papa untuk mengabarkan ketidaklulusannya itu. Disusul dengan permintaan maaf Betari. Lalu, dikabarkannya ketidaklulusan yang menimpa dirinya itu ke seluruh sahabat dan guru-guru lesnya. Dan jawabannya hanya satu, bersabarlah. Untunglah, Betari sudah mendaftarkan dirinya di salah satu universitas swasta di Jakarta. Universitas yang menurutnya tidak gombal dan mem-berikan janji-janji yang… muluk.
          Ia membuka website universitas swasta yang akan ditempatinya segera.

*

          Pagi hari, Mama sudah menghitung uang untuk ditransfer ke bank. Betari yang bangun agak siang duduk di hadapan Mamanya. Masih terbayang dalam benaknya peristiwa delapan Juli kemarin. Pas ulang tahun pernikahan orang tuanya. Mamanya menangis. Ia hapus air matanya, dan meluncurkan sebuah kalimat dari bibirnya, “Seharusnya kamu bertanggung jawab sampai ke titik ini.”
          Betari hanya diam.
          “Kamu sudah memilik jurusanmu. IPS pula. Mama nggak memaksa kamu untuk memilih juru-san IPA karena Mama mengetahui kemampuanmu. Mbok, ya, kamu bertanggung jawab. Belajar dengan sungguh. Sejak kapan seseorang yang akan menghadapi tes masuk universitas negeri belajar dengan terlentang, tiduran di kamar tamu, dan ber-twitter ria sambil membalas SMS di HP-nya? Benar-benar kamu!”
          Betari hanya diam. Tetapi, air matanya meluncur. Kenapa, sih, mesti Mama singgung lagi? Betari berlari ke kamar. Hanya bisa menangis. Sebenarnya, Betari tidak bisa menerima “kekalahannya”. Sejak tidur semalam, ia memang tampak nyenyak. Tapi? Dalamnya laut bisa diselami, tetapi dalam nya hati siapa yang bisa menyelami.       
          “Sekarang Mama mau tanya. Menyesalkah kamu akan tindakanmu itu? Karena berbeda artinya jika peribahasa bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian dibalik menjadi bersenang-senang dahulu bersakit-sakit kemudian. Dan inilah yang terjadi. Kamu harus merasakan sakitnya ketidaklulusan itu!”
          “Tari… menyesal, Ma,” Betari menyesal. Mengapa tiga hari sebelum ujian dia malah menonton Man of Steel bersama teman-temannya? 
          “Berarti kamu belum bisa menghadapi dan mengenyahkan godaan setan. Ajakan teman-temanmu itu godaan setan, tahu!”
          “Maafkan Tari, Ma! Maafkan Tari!”
          “Sudah. Yang sudah, ya sudah. Tak usah kamu sesali. Yang jelas, kamu buktikan bahwa anggapan orang bahwa kuliah di PTS sama hebatnya dengan kuliah di PTN. Karena… Mama berpendapat percuma berkuliah tinggi di PTN kenamaan kalau otakmu tak sampai. Tiga setengah sampai paling lambat empat tahun. Agar kalau ada berkat kamu bisa mengambil S2 di PTN. Yang penting, derajat keluarga kita terangkat. Betapa susah mengangkat derajat keluarga!”
          “Ya, Ma. Tari mengerti!”


*

          “Gimana, Tar? Jebol nggak?” tanya Serafina, teman seperjuangannya. Mereka berada di Mokko Factory, tempat donat-donat manis dan lezat berada dan minuman-minuman yang superenak bertengger. Mereka duduk di sebuah kursi. Berhadapan. Betari hanya terbengong-bengong. Harus bagaimana menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Di depannya, banyak orang yang lalu-lalang. Jelas, karena mereka berada di mal.
          “Kagak, Fin. Enak, ya, lo. Jebol meski jurusannya FKIP.”
          “Ah, ini bukan jurusan yang gue seneng juga kok. Gue mau Sastra, bukan FKIP.” kata Serafina yang akhirnya mesti menghadapi kenyataan kalau dia mendapatkan pilihannya yang ketiga. Pilihannya sama seperti apa yang diinginkan Betari. Sastra. Dan FKIP di universitas tempatnya tinggal ini adalah sebagai syarat agar dia mendapatkan tempat agar bisa tes di sini. “Lagipula, ngapain gue sekolah bertahun-tahun di sekolah yang sama dari TK sampai SMA ini kalau gue… jebol hanya di PTN setempat?”
          “Tapi lo bakal ambil, kan?” tanya Betari.
          “Ya iyalah. Bokap, kok, yang nuntut. Dia nggak punya biaya kalau terpaksanya gue kuliah di PTS.” Kafe itu memiliki WiFi, jadi Serafina mengambil ponsel android-nya dan mengaktifkan untuk bermain internet. Membuka twitter-nya.
          “Fin, Tuhan bener-bener nggak adil, ya, sama gue! Lo dikasih yang bagus, tapi… gue enggak. Belajar gue bukan belajarnya orang gila yang kepengen banget masuk ITB atau UI. Bahkan, UGM sekalipun.”
          “Ya itulah, ada rupa, ada harga. Ada harga yang harus lo bayar biar bisa masuk universitas prestisius kayak begitu. Bahkan, Unila sekalipun. Kalau lo mau masuk UI tapi belajarnya ogah-ogahan kayak siput, ya gimana Tuhan mau ngasih? Tapi lo nggak semestinya ngomong kalau Tuhan nggak adil. Jangan pernah menuntut.”
          “Tapi gue udah berdoa. Cowok gue, Attala, lulus di UI. Berharap biar gue bisa nyusul dia dan kuliah bareng… eh, kenapa harus beda universitas, sih?”
          “Ya nggak tahu, ya. Kan kalian sama-sama di Jakarta. Ya… masih bisa ketemu, lah seenggaknya, Tar.”
          “Doain aja Attala gak mutusin gue hanya gara-gara gak jebol di PTN.”
          Serafina tertawa. “Konyol banget kalau Attala benar-benar ngelakuin kayak begituan.” Betari hanya tersenyum simpul. Tapi kuluman senyumnya berubah seketika menjadi kuluman bibir yang melengkung ke bawah karena dia melihat Attala melingkari lengannya di perut Chandra. Ditemani Niko, Haris, dan Reska.
          Betari menampari dua sisi pipinya. Berharap kalau bukan itu yang ada dalam pandangannya ini. “Nggak beneran, kan, Fin?”
          “Ya iyalah nggak…” Serafina mengibaskan tangannya. “Sampai si Tala berani ngelakuin kayak begitu… liat aja. Gue bogem habis-habisan.”
          “M…mung…mungkin… lo boleh bogem dia sekarang…”
          “Maksud lo apaan, Tar?” Serafina tersenyum heran.
          “Lo boleh balik kepala sekarang!”
          Dan Serafina sudah mengepalkan tinjunya ketika melihat Attala berpelukan dengan Chandra.

*

          Dengan lemas Betari melangkahkan kakinya di rumahnya, sampai Senia, adiknya sendiri, heran melihatnya. Dari meja makan, ia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dan melihat kakaknya terhuyung pingsan di dinding. Tepat di depan meja ruang tamu.
          “Lha ngapa sore-sore melorot kayak ular keket?” tanyanya. Biasa, nyablak. Khas adiknya. Dia membopong kakaknya menuju kursi sofanya. Betari hanya bisa terengah-engah. Senia menuju dapur dan mengambilkan segelas air untuk kakaknya. Kakaknya yang menggunakan t-shirt biru muda dan jins biru gelap dan tas rotan dengan pulasan make up yang alami itu tampak benar-benar seperti kertas yang baru di-gremet-gremet. Ia menepuk pundak kakaknya. “Nih minum dulu. Udah lega baru lo cerita.”
          Betari menenggak airnya perlahan. Lalu menghela napasnya. Berat sekali. “Itu hanya mimpi aja, kan, yang gue lihat tadi siang?”
          “Liat apaan lo, Kak?” tanya Senia. Ia menatap kakaknya heran. “Liat dedemit?”
          “Gak. Lebih dari dedemit.” Matanya berkunang-kunang tiba-tiba. Ia melihat adiknya seakan-akan seperti melihat tujuh belas jin yang bersarang di sofa ruang tamunya. Haduh, kakak gue keliyengan , nih!  Bawa masuk kamar dulu, deh! pikir Senia.
          “Kak, mending lo gue bawa ke kamar dulu, deh. Ada yang nggak beres, nih, sama lo,” kata Senia.
          “Ya udah, deh.” jawab Betari pasrah. Senia lalu perlahan membawa Betari menuju kamarnya. Dibaringkannya kakaknya di kamar dan ditariknya selimut setelah AC di kamarnya dihidupkan. Kamar Betari benar-benar rapi. Beda dengan kamar Senia, 180 derajat malah. Buku-buku di raknya mulai dari novel sampai pelajaran lurus-lurus berdiri. Debu tak pernah hinggap sedikitpun di meja belajarnya. Kardus-kardus tempat menyimpan buku-buku bekasnya ditatanya rapi bertumpuk di sudut ruangan. Cat kamar berwarna putih menambah tenangnya suasana kamar itu. Benar-benar seperti berada di kamar seorang putri.
          “Gue telepon Mama dulu, ya!” cepat-cepat Senia mengambil ponsel di kamarnya. Namun, langkahnya seketika terhenti oleh teriakan Betari.
          “Jangan!” teriaknya sekuat tenaga. “Nanti malah jadi beban pikirannya Mama!”
          “Seenggaknya biar pas pulang Mama bawa obat. Kalau nggak, Mbak Lilik yang bakal mijat elo.”
          “Ngapain dipijat?”
          “Pijat bakal bikin lo merasa lebih baik.”
          Dengan sekuat tenaganya pula Betari bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar adiknya. Walaupun terkadang adiknya benar-benar bandel, tetapi dia memiliki rasa kasih sayang terhadap kakaknya. “Makasih, ya, Nia.” Dipeluknya adiknya. “Tapi minum obat aja udah cukup buat gue.”

*

          “Kenapa kamu keliyengan begini, sih, Nak? Mama jadi khawatir sama kamu!” seru Mama khawatir ketika mengantarkan makanan menuju kamar anak sulungnya itu. “Kamu makan dulu, ya. Nih, Mama beliin mi ifu goreng dari restorannya Bu Mei samping tokonya  Tante Sinta.”    
          “Ma… Betari nggak habis pikir. Apa ini teguran Tuhan buat Tari atas semua kelalaian yang udah Tari lakukan?” lirih Betari. “Tapi Tuhan benar-benar jahat sama Tari. Tari udah baca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu dan memanjatkan doa biar Tari lulus. Tari udah ngelakuin semuanya. Belajar, dan Tari mengerti apa salah Tari sampai Tari ngelihat kenyataan kalau Tari harus masuk PTS dan Tari benar-benar nggak nyangka kalau pacar Tari sebejat itu. Karena nggak satu tempat kuliah Tari diputusin dengan cara yang nggak etis dan di mal dia tadi meluk Chandra, Ma. Chandra Dewintasari! Tari benar-benar nggak habis pikir!”
          “Cukup, Betari!” tegas sang Mama. Tak tahan telinganya mendengar rutukan anaknya itu. “Nggak pantas kamu berburuk sangka sama Yang Di Atas!”
          “Tapi pasti Tuhan jahat sama Betari, Ma! Tuhan benar-benar nggak sayang sama Betari!” kini Tari mulai terisak dan tangisnya makin menjadi. “Tuhan jahat sama Betari, Ma! INI NGGAK ADIL!”
          Mama tertegun melihat Betari yang mulai mengisak. Anak gadisnya ini mulai berubah menjadi seorang perempuan kecil ketika menangis terisak seperti ini. Dibelainya kepala anaknya dan dikecupnya lembut saat ia sudah berada dalam pelukannya.
          “Tari, dengar cerita Mama. Ada seorang anak kecil yang ingin meminta seekor kura-kura kepada Tuhan. Ia memohon-mohon kepada Tuhan ketika menunggu. Ketika ia mendapatkan jawaban darinya, dia malah mendapatkan seekor kepompong. Dituntutnya Tuhan karena ia meminta kura-kura, bukan kepompong. Tanpa sadar saat ia tidur, ia melihat si kepompong berme-tamorfosis menjadi seekor kupu-kupu dengan sayap yang indah. Kamu tahu kan artinya?”
          Isakan Betari perlahan mulai berhenti dan ia berkata, “Rencana-Nya beda dengan rencana kita, kan?”
          “Nah, itu kamu sudah mengerti. Sekarang, hapus air matamu. Minta ampun kepada Tuhan dan selesaikan semua masalahmu. Uangnya tadi sudah ditransfer, kan?”
          “Baik. Sudah, Ma.”

*

          Di Solaria, dia bertemu Attala. Bedanya, kini dia datang sendiri. Serafina berbisik kepada Betari, “Udah, lo samperin tuh si jahanam penguasa neraka!”
          “Beres!”
          “Asal, lo pake kepala dingin, ya. Jangan lo nyalain tuh sumbu kompor.”
          Sengaja di Solaria mereka memilih tempat duduk paling ujung. Di sudut. Betari mulai melangkah duduk di hadapan Attala. Dia tampak cantik dengan kardigan merah dengan dalaman kaus hitam dan legging abu-abu yang benar-benar serasi dengan flatshoes pinknya. Sementara pacarnya, Attala Wibisono, yang bermata bulat, berkulit bersih, berambut ikal, berhidung mancung, dan memberikan wajah yang berkarisma ketika tersenyum itu menatap Betari terkejut.
          “T…Ta…Tari? Ng…ngapain kamu di sini?”
          “Buang keringat. Ya, nggaklah, gue mau makan sama Fina di pojokan,” Betari berkata dengan sedikit ketus.
          “Oh,” tanggap Attala. Matanya mulai berkaca-kaca.
          “Ada hubungan apa kamu sama Chandra? Kamu kan tahu kalau kamu masih sama aku. Apa karena kabar kalau aku nggak lulus itu makanya kamu selingkuh sama Chandra? Dia, kan, sama-sama di UI.”
          “Kamu… kamu nggak lulus?” kaca yang berada dalam matanya retak sudah dan berganti menjadi belalakan. “How come?
          Kata-kata itu membuat Betari juga sama terkejutnya. Attala baru tahu kalau Betari nggak lulus? Benar-benar sulit dipercaya. “Kamu baru tahu a… aku nggak lulus?”
          “Ya. Dan gue baru tahu.” kata Attala serius. “Masalah Chandra, Chandra udah diputusin sama si Reska. Si Chandra sengaja ngerenggut tangan aku biar ngelingkerin pinggangnya dan dia meluk aku duluan. Dan Reska terkejut melihatnya. Itu pas si Reska lagi cari-cari batik buat bokapnya, dia curi-curi kesempatan. Dari dulu dia nggak ikhlas kalau rupanya dia jadian sama si Reska.”
          Benar-benar di luar kesadaran. Betari membatin. “Terus…”
          “Tenang,” Attala meremas tangan Betari lembut. “Hubungan kita nggak bakalan berakhir hanya gara-gara alasan konyol begini. Kamu, kan, masih bisa coba lagi tahun depan.” Diraihnya tangan Betari dan dikecupnya. Cepat-cepat Attala melepas tangan Betari ketika mengetahui Serafina sudah berada di dekatnya.
          “Nggak jadi ngebogem si Attala, nih, Tar?” tanyanya menggoda.
          “Nggak!” kata Betari. “Justru gue udah kebogem sama kesetiaannya Attala. Udah cukup gue dibogem sama Tuhan gara-gara nggak lulus. Pasti Tuhan ngasih yang lebih indah. Dan ini salah satunya.”
          “Makanya,” kata Serafina. “Jangan menuntut Tuhan!”
          Mereka tertawa.

Bandarlampung, 11 Agustus 2013 | 20:10 WIB
          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar