Sabtu, 21 September 2013

KETIKA CINTA BERBUNGA DI TEMPAT YANG SALAH


Salatiga, Ruang FKIP UKSW, 30 Agustus 2013


Untukmu, yang mampu membuat hatiku menari.
            Beberapa hari yang lalu, kamu membuatku bingung. Benar-benar bingung karena aku duduk di barisan terbelakang bersama sahabat-sahabatku yang baru. Aku ingin melihatmu. Rupamu. Wajahmu. Secara utuh tentunya. Dan kau mulai menampilkan bakatmu yang bisa kubilang sangat seksi. Kau menari. Gerak tubuhmu itulah yang membuatku berdiri dan ingin melihat gayamu yang sangat membuat darahku begitu cepatnya berdesir. Aku suka gayamu ketika kau menggunakan headphone. Kau memang tampak seperti ‘si cantik’. Dan kau berhasil membuat perasaanku perlahan menari.

Untukmu, yang dikaruniakan Tuhan wajah yang sangat sempurna.
Betapa baiknya Tuhan memahatmu dengan sempurna. Meski ku tahu ketika kau SMA tak ada menarik-menariknya sama sekali, seiring pertumbuhan kau begitu memikat. Rambutmu yang keriting tetapi terkadang kau buat menjadi fuzzy itu membuatmu mudah kukenal. Apalagi ketika kau putuskan menggunakan softlens di matamu. Atau… ketika kau mengenakan kaca-mata yang seharusnya dapat digunakan oleh seorang kakek. Namun, kacamata itu membuatmu terkesan unik.

Untukmu, yang punya segudang agenda.
            Kau begitu hebat! Sangat, malah. Ternyata, kau punya segudang agenda yang harus kau jalani. Dan, kau masih bisa mengatur antara kuliah dan agendamu dengan baik. Ah, itu pula salah satu hal yang membuatmu menyukaimu. Selain kau dipahat-Nya dengan begitu rupawan, kau juga memiliki otak yang membuat orang-orang bisa ber-ah dan ber-ooh.

Untukmu, yang membuatku menyadari bahwa aku menabur cinta di lahan yang salah.
            Aku begitu mengagumimu. Sangat. Aku selalu merasa salah tingkah ketika melihatmu berjalan. Aku begitu menyukaimu. Sungguh. Tetapi, kau buat aku menangis, dan membuat hatiku beralih arah. Dari seorang penyuka dan pengagum, kini aku harus menjadi penonton setiap kemesraan yang kau buat, dan aku harus ikhlas karenanya.
            Aku tak mau harus membagi cintaku, atau harus rela melihatmu mengukir senyum di bibirmu ketika kau harus berjalan kepadanya. Bodoh… aku sungguh bodoh. Mengapa aku mengharapkan seseorang yang tak pernah berharap padaku? Namun, terima kasih karena engkau telah membuat benakku menyadari sesuatu. Mengagumimu bukanlah suatu kejahatan. Terima kasih karena telah membuatku begitu mengagumimu. Meski aku harus menerima kalau kau… sudah berdua.

Dari seseorang yang cintanya (selalu) tak pernah sampai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar