Selamat malam. Apa kabarmu? Sebenarnya aku tidak
ingin menyapamu, Sayang. Aku hanya menyapamu karena sekedar ingin
mempertahankan sopan santun belaka. Alangkah tidak sopannya apabila kalau
sebuah perjumpaan tidak diawali dengan salam pembuka?
Baiklah. Aku akan sedikit berbasa-basi. Sudahkah
kau mendiamkan badai dalam kantung te-ngahmu itu? Sudah, ya? Baguslah. Aku tak
ingin kau terlihat tak sehat walaupun aku kini sedang dalam keadaan yang
mengharuskanku berada dalam kungkungan penuh bara api. Aku ingin kau melihatku
sebagai seorang yang berkepala dingin.
Cukup sudah aku berbasa-basi.
Sayang, kesetiaan sangat kita junjung dalam setiap
nafas kita. Kala kita mulai merenda benang hingga menjadi sebuah kain yang akan
melindungi kita dalam mengarungi dunia ini dengan cinta dan kasih. Di setiap
kecupan yang kau daratkan di keningku. Kau tahu, Sayang? Setiap kecupan
perpisahan yang kau daratkan menyulut semangat dalam menjejakkan kaki untuk
mengarungi hari. Dan, kesetiaan itu juga ada dalam setiap jemarimu. Ya, jemari
yang meng-genggam erat tanganku. Jemari yang kau gunakan untuk membelai setiap
helai rambutku ketika kepalaku berada di bahumu dan kurasakan keraguan ada
dalam hatiku. Kau, bagaikan sang pelaut yang begitu tangguhnya meredakan itu di
dalam hatiku. Seakan ketika kau berkata,
“Tenanglah” di telingaku, badai itu langsung mereda.
Tapi… Sayang, mengertilah.
Cintaku takkan terbagi. Bahkan untuk orang yang
tertampan sekalipun. Ya. Kau tahu, Sayang? Aku sangat sakit ketika kau
mencemburuiku dan berkata, “Kamu sudah punya pacar, ya? Ya sudah.
Bersenang-senanglah dengannya.” dan kau tak bertanya detil.
Mengertilah, Sayang.
Mengertilah.
Aku tak akan pernah berbagi cinta. Cintaku abadi.
Bukan seperti bunga dandelion yang gampang tertiup angin.
Ketahuilah itu.
Hanya sekali ini sayang.
Aku tak mau berkali-kali kita membahas hal ini.
Titik.
Selamat tinggal.
Selamat bersenang-senang dengan anggapanmu karena aku
akan terbang dengan seseorang yang dengan setia akan membentangkan sayap
indahnya mengarungi dunia penuh pasak ini.
Aku bosan kau interogasi terus menerus. Jadi, lebih
baik aku… meninggalkanmu. Selamanya. :)
Sekali lagi, selamat tinggal.
Dari seseorang,
Yang (sudah tak tahan lagi dan kesal) ingin meyakinkan
kekasihnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar